Gelombang Masih Tinggi, Nelayan Enggan Melaut
BERITA TERKAIT

WONOGIRI - Tinggi gelombang di pantai selatan Jawa sejak November 2016 tidak bisa diprediksi. Akibatnya, nelayan masih belum melaut. Padahal, harga ikan khususnya lobster sedang mahal-mahalnya. 

Ketua Koperasi Nelayan Parang Bahari Dwi Hartono mengatakan bahwa sejak November tahun lalu, nelayan masih menjaga diri untuk tidak melaut. Pasang surut yang tidak bisa diprediksi membuat nelayan tidak mau berspekulasi menangkap ikan di tengah laut.

“Kami belum melaut. Karena seringkali kapal terbalik, bahkan sampai terapung-apung hampir tiga hari karena nekat menerjang gelombang tinggi,” kata Dwi Hartono, Rabu kemarin (15/2).

Akibatnya, hasil tangkapan nelayan menyusut hampir setengah produksinya per bulan. Padahal, saat ini tengah musim ikan. “Sebenarnya musim ikan,  satu seperempat ton per bulan yang masuk ke koperasi, turun hampir separuhnya,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan Dwi, hanya nelayan pencari lobster yang tampak mencari lobster di tebing-tebing di pinggir pantai. Hasilnya tidak banyak. Padahal, harga lobster saat ini harganya mencapai Rp 250-280 ribu rupiah.

Taufiq Hidayat, nelayan asal Desa Song Bledek, Kecamatan Paranggupito mengatakan bahwa sudah sebulan ini dirinya tidak melaut. Ombak besar dan angin kencang membuat dirinya dan nelayan lain memilih kembali bertani.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar