Bantuan Rp 6,9 Miliar Morat-marit

WONOGIRI – Target pemerintah pusat membantu meningkatkan kesejahteraan petani di Wonogiri meleset. Dari total bantuan pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP) Rp 26,9 miliar, senilai Rp 6,9 miliar diantaranya malah macet.

Dana PUAP digelontorkan sejak 2008-2015. Per gabungan kelompok tani (gapoktan) dan kelompok tani (poktan) mendapat bantuan Rp 100 juta. Anggaran tersebut bisa dipinjam oleh petani untuk mengembangkan usaha agribisnis di desa masing masing. 

Namun, faktanya di lapangan, tidak sesuai harapan. Laporan dari sejumlah pengurus gapoktan, ada indikasi oknum pemerintah desa ikut menikmati dana bantuan tersebut. Meskipun begitu, ada beberapa gapoktan yang sukses memanfaatkan bantuan pusat hingga bisa mendirikan lembaga keuangan mikro agribisnis (LKMA). 

Salah satu gapoktan yang mengalami kendala mengelola PUAP adalah Desa Wonoharjo, Kecamatan Nguntoronadi. Sejak digulirkan 2014, bantuan Rp 100 juta tak jelas juntrungannya. Para peminjam dana bantuan selalu beralasan jika ditagih.

"Mending kalau bayar angsuran, bayar simpanan pokok dan wajib saja tidak pernah. Kalau ditagih, banyak yang mengatakan ‘duit negoro kok, ngopo kowe sing repot’ (uang negara, kenapa kamu yang repot)," kata Sukiyo, pengurus gapoktan dari Desa Wonoharjo, Kecamatan Nguntoronadi di pendapa kantor bupati Wonogiri kemarin (9/3).

Karena terus berkelit ketika ditagih, pengurus gapoktan putus asa. Dampaknya, dana PUAP mandek. Sukiyo juga mengeluhkan adanya oknum perangkat desa yang menghambat pengelolaan anggaran.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar