Kiprah Alumni UNS: Dr. Muhammad Taufiq S.H., M.H

Kampus sebagai kawah candradimuka ilmu pengetahuan benar-benar dipahami oleh Muhammad Taufiq. Namun baginya, menjadi mahasiwa tidak cukup dengan datang, duduk mendengarkan dosen menyampaikan materi kuliah, kemudian pulang. Harus ada aktivitas “gila” agar menjadi mahasiswa yang paripurna.  

Ada tiga tipe mahasiswa versi Taufiq. Mahasiswa salon, sedikit aktivis dan mahasiswa bisnis. Mahasiswa salon dapat dijumpai hingga saat ini. Kampus yang memiliki iklim ilmiah disulap menjadi catwalk para mahasiswa tipe ini. Bergaya bak model mulai ujung rambut hingga kuku kaki.

Kemudian Mahasiswa sedikit aktivis. Sering demo di luar, tetapi tetap menurut dengan dosen saat di kelas. Tipe terakhir adalah mahasiswa bisnis. Di mana mereka belajar sekuat tenaga, lulus dan mengembangkan bisnis. Taufiq mengaku tidak masuk ketiga-tiganya. “Saya waktu mahasiswa tipenya pemberontak,” ujarnya.

Pria yang lulus sarjana hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) 1991 ini datang ke kampus dengan membawa otak berisi gagasan dan wacana yang membangun serta berpihak kepada rakyat kecil. Ia datang bukan masuk ke kelas, tetapi turun ke jalan, menggelar demonstrasi. Ya, selama masa studi, waktunya lebih banyak dihabiskan di jalan daripada di kelas. Ia melakukan aksi menentang program-program kampus yang merugikan mahasiswa, hingga aksi melakukan advokasi warga tertindas di luar kampus.

Sewaktu di kampus pun ia aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa. Sebut saja Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Novum. Organisasi yang bergerak di bidang jurnalistik itu sedikit banyak menjadi pelampiasannya dalam menulis. Tak hanya jago kandang, tulisannya kala itu mampu menembus surat kabar lokal maupun regional. Pemikiran-pemikiran dia lebih banyak mengangkat tema kemanusiaan atau penolakan penindasan kaum lemah.  

Meski banyak di jalanan, pria yang pada 2002 mendapatkan gelar magister hukum ini cukup konsekuen. “Kalau pas masuk kelas, saya tidak mau belajar dengan buku teks yang dipegang dosen. Saya sukanya membaca buku induk yang berbahasa Inggris atau Jerman di perpustakaan.  Buku pegangan kecil itu saya sobek, karena tipis sekali. Belajar hukum tidak mungkin hanya dengan kertas tipis seperti itu. Tapi harus banyak membaca,” katanya.

1
2
3
4

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar