Kiprah Alumni UNS: Narayana Soedewo

SOLO - Apa yang kebanyakan dilakukan para sarjana strata 1 (S1) yang baru saja lulus alias fresh graduate? Rata-rata langsung sibuk membuat puluhan lamaran pekerjaan, curriculum vitae (CV), dan lainnya untuk dikirim ke perusahaan-perusahaan.  Berharap bisa dilirik salah satu perusahaan untuk menjadi karyawan atau tenaga kerja.

Tapi, hal ini tidak berlaku bagi Narayana Soedewo, 48. Alumni Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) ini justru memilih jalan lain di luar kebanyakan. Dia mengibarkan bendera sebagai wirausahawan begitu meraih predikat sarjana pada 1993 lalu.

“Sebenarnya dulu waktu kuliah, cita-cita saya jadi pegawai bank. Lantas saya ketemu sama ayah kawan baik saya. Beliau adalah seorang pebisnis yang bergerak di perusahaan otobus. Saat itu saya dinasihati agar berani terjun ke dunia wirausaha. Dari situ minat bisnis saya timbul,” papar pria yang akrab disapa Nono itu kepada Jawa Pos Radar Solo saat ditemui di kantornya di Tirtamaya Residence, Gentan Kamis (9/3).

Nono sadar masuk ke dunia usaha tentu akan selalu bersinggungan dengan kompetisi yang kadang tak bisa diprediksi. Namun, bagi dia iklim kompetisi bukanlah hal yang baru. Hal itu sudah ia rasakan saat masih duduk di bangku kuliah dengan kondisi kampus UNS yang kompetitif antarsesama mahasiswa.
 

”Satu hal yang selalu saya ingat adalah suasana kompetitif antarmahasiswa kala kuliah. Zaman dulu kan masuk UNS itu susah banget. Buat cari IPK 2,7 aja sulitnya minta ampun. Makanya, terbukti lulusannya banyak yang berhasil di berbagai bidang,” ujar Nono.

Sebagai anak rantau, Nono pun punya daya juang yang cukup tinggi. Rampung kuliah, tepatnya di usia 27 tahun, Nono mulai mengambil alih usaha milik keluarga yang bergerak dalam bidang alih daya. Yakni PT Binajasa Sumber Sarana (BSS) yang sudah ada sejak 1986. Kendati tergolong meneruskan, bukan berarti dia tinggal leha-leha sambil kipas-kipas.

Di awal menjalankan PT BSS, Nono sempat ragu dan minder dengan kemampuan yang dimiliki serta minimnya pengalaman berinteraksi dengan orang lain. ”Sempat minder karena partner kerja perusahaan kan sudah banyak dan orang asing. Tetapi, itu kemudian yang membuat saya makin tertantang untuk bisa melayani permintaan mereka,” ucap pria pehobi otomotif ini.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan warisan yang awalnya hanya memiliki 100 orang pegawai terus berkembang pesat. Hingga saat ini telah memiliki sekitar 2.600 pegawai. Diungkapkan Nono, di Jakarta perusahaan di bidang jasa semacam PT BSS sangat bagus prospeknya. “Alih daya artinya borongan pekerjaan dalam berbagai bidang. Singkat cerita, kami menyediakan SDM (sumber daya manusia) baik dalam maupun luar negeri dalam berbagai bidang usaha,” jelas Nono.

Tak puas hanya satu perusahaan, ayah dua anak ini pun  mulai melebarkan sayap dengan mengembangkan usaha di berbagai lini. Nono punya dua bidang bisnis yang sangat prospektif sepanjang masa, yakni properti dan kuliner.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar