Trauma Gagal Panen, Petani Tembakau Pilih Pangkas Lahan

BOYOLALI – Trauma menderita kerugian pada panen lalu, petani tembakau memilih mengurangi luas lahan tanam. Salah satu faktor kegagalan tersebut karena tanaman tembakau diguyur hujan terus- menerus.

Tiyah, 50, warga Desa Genting, Kecamatan Cepogo mengatakan, dia menanam tembakau di lahan seluas 3.000 meter persegi. Sedangkan satu petak lahan lainnya seluas 1.500 meter persegi tetap ditanam sayuran. “Kami khawatir, harga panen tembakau anjlok seperti tahun lalu. Makanya sebagian lahan tetap ditanam sayuran seperti cabai dan bawang merah serta wortel,” katanya.  

Petani lain, Hadi Martono, 46, warga Desa Samiran, Kecamatan Selo mengaku masih melakukan persiapan tanam. Dia juga tidak akan menanam tembakau di seluruh lahan miliknya. Dia masih waswas kerugian panen tembakau tahun lalu bakal terulang. “Tahun lalu saya rugi hingga Rp 10 juta lebih karena harga tembakau hancur,” ujarnya 

Karena itu, sebagian lahan tetap ditanam sayuran. Dia pun sudah mulai menanam cabai dan wortel. Penanaman sayuran juga diakui untuk menghemat tenaga. Pasalnya, dia kini hanya dibantu seorang anak dan istri untuk menggarap lahan seluas 4.000 meter persegi. “Anak lelaki saya yang besar sudah bekerja di Solo. Jadi tak bisa membantu kerja di ladang,” ujarnya.

Pengurangan tanaman tembakau juga diungkapkan Warto, 32, warga Dusun Gebyok, Desa Samiran, Kecamatan Selo. Pembudidaya benih tembakau ini mengaku pesanan benih tembakau di tempatnya berkurang.

 “Wilayah penghasil tembakau asepan meliputi Kecamatan Selo, Cepogo, Ampel, Musuk, Boyolali Kota dan Mojosongo,” katanya.  

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar