Pendapatan Cupet, PO Bus Sulit Lakukan Peremajaan

SOLO – Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta mendorong perusahaan otobus (PO) untuk melakukan peremajaan armada. Tujuannya memaksimalkan pelayanan terhadap konsumen. Namun, pihak PO sendiri mengaku kesulitan. Lantaran biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima.

Hal ini diakui Manajer PO Mulyo Indah, Joni Sun kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (15/6). Dia menyebut, sekali peremajaan, PO memerlukan Rp 1,3 miliar. Biaya sebesar itu, perusahaan tidak mampu mengembalikan modal dalam waktu singkat. Terlebih, saat ini pendapatan dari setiap armada tidak lebih dari Rp 1 juta per hari.

”Laju pertumbuhan sangat lambat. Bisa dikatakan kami ini nggak sehat. Semua (PO) sedang tiarap,” katanya di sela pemeriksaan kesiapan armada Lebaran oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Surakarta, kemarin.

Persaingan yang terjadi, lanjut Joni, bukan dengan sesama PO. Namun dengan moda transportasi lain. Seperti kereta api dan pesawat terbang. Ia menyebut konsumen pengguna jasa transportasi saat ini sedang mengalami pergeseran dari bus ke kereta api.

Selain itu bertambahnya kendaraan pribadi juga memicu seretnya bisnis PO. Dampak terburuk dari itu semua adalah pelepasan aset bus oleh PO untuk menutup kerugian. ”Dulu pada 1997, kami punya 60 armada. 2004 jadi 50, 2010 tinggal 45, dan sekarang hanya punya 30 saja,” keluhnya.

Meski terpuruk, PO tetap melakukan pengecekan kelayakan armada secara kontinyu. Joni tetap meyakinkan konsumen, bahwa armadanya menyediakan jasa yang nyaman dan aman. Pengecekan rutin yang dilakukan, antara lain ban, setir, kampas kopling, dan rem. Selain itu juga disiapkan seluruh dokumen perjalanan sesuai regulasi.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar