PCNU Sragen Tolak Sekolah 5 Hari

SRAGEN – Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sragen menegaskan sikap menolak kebijakan sistem lima hari sekolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Hal ini berkaitan dengan rutinitas selama ini bahwa setelah sekolah formal, para siswa melanjutkan di madrasah diniyah.

Ketua Tanfidziyah PCNU Sragen KH Ma'ruf Islamuddin menyampaikan pernyataan sikap penolakan oleh para ulama, pimpinan pondok pesantren, pengurus, Yayasan Maarif dan Persatuan Guru NU Sragen. Ditegaskan bahwa pelaksanaan pelajaran 8 jam tidak cocok untuk generasi muda Indonesia saat ini.

”Bagi pelajar NU itu biasanya bakda duhur selesai dan dilanjutkan dengan mengaji di madrasah. Jika dilaksanakan tentu sangat tidak sesuai dengan kondisi lapangan,” ujarnya Jumat (16/6).

Ma’ruf mengatakan bahwa madrasah tidak terpisahkan dengan pendidikan formal. Selama ini pelajaran agama dalam pendidikan formal belum menunjukkan hasil yang efektif. Sehingga perlu adanya pendidikan madrasah diniyah pada sore hari.

Jika rencana pemerintah pusat dilaksanakan, maka berpotensi mematikan pendidikan madrasah diniyah dan pondok pesantren. Selain itu, pelaksanaan sekolah lima hari ini telah merampas hak masyarakat untuk berperan aktif menyelesaikan pendidikan. ”Secara umum, kami menyesuaikan dengan keputusan PBNU,” tegasnya.

Terpisah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen sudah mulai menyiapkan penerimaan peserta didik baru (PPDB) online untuk tingkat SMP.  Sekretaris Disdikbud Suwardi optimistus sistem Sragen lebih baik daripada PPDB yang dikelola Provinsi Jawa Tengah . Untuk pelaksanaan mulai Senin nanti khusus untuk keluarga tidak mampu.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar