Senin, 17 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Nasional
Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo

Perjuangkan Harkat Martabat Perempuan lewat Parlemen

22 Desember 2017, 07: 36: 21 WIB | editor : Bayu Wicaksono

Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo

Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo

Peran seorang ibu serta perempuan tidak bisa dipisahkan dalam pembangunan bangsa Indonesia. Seorang ibu memiliki kewajiban untuk mengurus dan mendidik anak. Namun di sisi lain juga harus mampu melayani dan menjadi teman berdiskusi bagi seorang suami.

Hari Ibu sendiri diperingati sebagai tonggak perjuangan para perempuan yang bersatu memberi kontribusi bagi negeri. Sehingga makna dalam momentum tersebut tidak hanya terbatas bagi ibu, tetapi juga untuk seluruh perempuan dan gerakan perempuan. Dalam hal ini seorang perempuan juga memiliki hak untuk berjuang dalam bidang politik.

Salah satu perempuan yang berjuang dalam ranah politik yakni  Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo. Pejuang perempuan yang akrab disapa Sara ini mengawali karir politik melalui organisasi sayap Partai Gerindra, yakni Tunas Indonesia Raya (Tidar). Berawal dari organisasi ini yang kemudian membuat dua akrab dengan dunia politik. Hingga pada 2014, Sara mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif (Caleg) DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jateng IV.

Perjuangan keponakan dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto ini  tak sia-sia.  Terbukti, dia berhasil meraup  47.542 suara hingga berhasil mengantarkan putri dari Hashim Djojohadikusumo ini ke Senayan sebagai anggota DPR RI.

Dia ditugasi partai duduk di Komisi VIII DPR RI, Sara menjadikan dirinya lebih fokus dalam persoalan perempuan. Komisi yang membidangi sejumlah permasalahan seperti pemberdayaan perempuan, sosial dan agama. Bidang Komisi VIII menjadi ajang keseriusan bagi Sara mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Salah satunya yakni sikap kerasnya melawan trafficking (perdagangan manusia) lewat wadah Freedom For Indonesia. Organisasi ini menyadarkan masyarakat akan bahaya trafficking, di mana korbannya adalah para perempuan.

Ibu dari dua anak ini sadar bahwa perempuan memiliki peran dan posisi strategis sebagai kekuatan alternatif penyokong percepatan pembangunan bangsa tanpa melupakan kodratnya sebagai kaum hawa. “Di tangan ibu yang cerdas, terbentuk generasi berkualitas,” tegasnya.

Dia menyampaikan selama ini perhatian kepada korban kekerasan seksual masih minim. Kondisi inilah yang membuat dia bertekad memperjuangkan Rancangan Undang-Undang (RUU)  Penghapusan Kekerasan Seksual.

Legislator yang mewakili wilayah Sragen, Karanganyar dan Wonogiri ini saat berkunjung ke Sragen belum lama ini juga menyampaikan bahwa RUU Penghapusan Kekerasan Seksual membahas hal yang tidak termuat dalam KUHP, UU Perlindungan Anak dan masalah perempuan lainnya. Esensinya perlindungan korban dari segala hukum acara.

Menurut aktivis perempuan ini, RUU tersebut sangat penting dalam menekan terjadinya kekerasan seksual. Karena selama ini para perempuan maupun anak banyak yang menjadi korban kekerasan seksual tanpa mendapat perlindungan.

Dia memberi contoh para korban yang diperkosa malah diminta menikah dengan pelaku. ”Padahal banyak korban yang masih di bawah umur, sehingga bila dipaksa menikah dengan pelaku jelas akan menimbulkan trauma lain terhadap korban,” ujar Sara.

Dia juga mengambil contoh pelecehan seksual secara verbal di lingkungan kerja. Pasalnya sejauh ini belum ada hukum yang mengikat. Ditambah jika dilakukan secara berulang-ulang dikhawatirkan akan sangat  menyudutkan korban.

Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo

Tempat Tanggal Lahir                    

Jakarta  27 Januari 1986

Pendidikan    

International High School, College Du leman, Geneva Switzerland (2003)

S1, Bachelor in Classics and Drama, University Of Virginia, Charloville, Virginia, Amerika Serikat (2005)

S1, Diploma in Screen Acting Postgraduate Level, International School of Screen Acting, London, UK. (2007)

Riwayat Organisasi

Founder and Chairwoman Parinama Astha Foundation (2012 – 2015)

Head of the Fight Against Human Trafficking Division The Wadah Foundation sebagai (2010 – 2012)

Ketua Bidang Agama Tunas Indonesia Raya (Tidar) periode 2010 – 2011

Ketua Bidang Pengembangan Peranan Perempuan Tidar (2008 – 2010)

Vice Chairwoman Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) periode 2008 - 2009

(rs/din/bay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia