Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Kesehatan

Donorkan Darah, Puasa Tetap Sah

29 Mei 2018, 17: 10: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Stok darah di PMI Surakarta sering menipis saat Ramadan.

Stok darah di PMI Surakarta sering menipis saat Ramadan. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

MUNGKIN tidak sedikit umat yang bertanya-tanya. Apakah tindakan medis, termasuk donor darah dapat membatalkan puasa?

Tidak perlu khawatir. Pakar kesehatan Universitas Sebelas Maret (UNS), dr. Aisya Fikritama menekankan, tidak semua tindakan medis membatalkan puasa. Bahkan mayoritas adalah mubah, begitu pula donor darah.

“Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan laboraturium tidak membatalkan puasa. Begitu pula memberikan atau menerima donor darah juga tidak membatalkan puasa,” beber Aisya.

Pakar kesehatan Universitas Sebelas Maret (UNS), dr. Aisya Fikritama.

Pakar kesehatan Universitas Sebelas Maret (UNS), dr. Aisya Fikritama. (ISTIMEWA)

Saat Ramadan, stok darah Palang Merah Indonesia (PMI) Surakarta kerap menipis. Mungkin pendonor takut jika mendonorkan darahnya dapat membatalkan puasa.

Sebab itu, perlu sosialisasi dari pemerintah dibantu oleh tokoh agama dan eksekusi yang baik dari tenaga kesehatan. Sehingga permasalahan terbatasnya stok darah selama Ramadan tidak terjadi lagi.

“Para petugas medis pun tenang dalam memberikan bantuan medis secepatnya kepada pasien,” ungkapnya.

Adakah tindakan medis yang membatalkan puasa? Aisya mengatakan ada. Yakni suntikan yang mengandung glukosa. Itu karena sifatnya menambah energi kepada pasien yang asupan oralnya sulit, sehingga nutrisinya diganti dengan glukosa melalui infus.

Bagaimana dengan pasien yang diinfus? Mereka sebaiknya membatalkan puasanya hingga kondisi fisiknya pulih. Mengingat, orang yang sedang sakit diperbolehkan tidak puasa, namun menggantinya di lain waktu.

Sementara itu, dikutip dari jpnn.com, pasien sakit mag membutuhkan perhatian ekstra ketika puasa. Menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, penderita mag yang melakukan puasa dengan cara yang tepat justru berpotensi untuk mendapatkan kesembuhan.

Sebab, puasa yang baik dan benar akan membuat penderita memiliki jadwal makan yang lebih teratur, yakni pada saat sahur dan berbuka. Dengan demikian, lambung akan terbiasa dengan pola makan tersebut.

Selain itu, puasa juga mengurangi kesempatan penderita mag mengonsumsi makanan pemicu asam lambung. Maka lambung pun dapat beristirahat untuk sementara waktu. Hasilnya, serangan gejala mag seperti mual, muntah, dan perut yang terasa perih juga akan berkurang.

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia