Sabtu, 15 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Travelling

Dikecam Rusak Sungai, Kedung Gong Malah Ramai Pengunjung

20 Juli 2018, 11: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Pengunjung asyik berswafoto di Kedung Gong, Rahtawu.

Pengunjung asyik berswafoto di Kedung Gong, Rahtawu. (NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS)

VIRAL dan dikecam banyak orang, destinasi wisata Kedung Gong justru kian ramai pengunjung. Ada yang penasaran melihat batu kali yang dicat. Ada pula yang ingin melihat kondisi batu, hingga sekadar berswafoto.

Salah satu pengunjung bernama Vira Maya Febriana jauh-jauh dari Mejobo, Kudus khusus untuk melihat batu warna-warni. Dia penasaran keunikan pemilik sekaligus batu kali yang dicat tembok itu.

”Kemarin kan sempat viral di-medsos. Katanya vandalisme atau pengrusakan alam di Rahtawu. Nah ketika saya klik, kok keluarnya batu-batuan berubah jadi warna-warni. Mungkin pemiliknya terinspirasi kampung Pelangi di Semarang dan Malang. Karena penasaran, saya datang ke sini deh,” ungkapnya.

Apapun alasannya, destinasi Kedung Gong jadi ramai pengunjung. Rata-rata anak muda. Hal itu dibenarkan pemiliknya, Santoso. Dia mengaku setelah viral memang banyak yang mengunjungi lokasi wisatanya. ”Biasanya sekadar selfie dan kecekan (bermain air),” ungkapnya.

Pemasukannya pun bertambah. Berbeda dari beberapa bulan lalu sebelum ada pengecatan. ”Ya alhamdulillah ramai pengunjung,” ucap lelaki berusia 55 tahun ini.

Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) kawasan Muria Hendy Hendro mengatakan, pengecatan ini memang kurang tepat. Sebab merusak keaslian batu kali. Mungkin pemiliknya beranggapan dapat dicat seperti kampung Pelangi.

”Itu kan kampung urban. Tidak masalah. Lagian tidak membahayakan pengunjungnya. Ini kan beda. Sungai,” ungkapnya.

Solusinya, dia menyarankan pemkab dapat memnbina warga agar mengerti merawat alam. Jadi untuk mewujudkan destinasi wisata perlu campur tangan semua pihak. Bukan masyarakatnya dibiarkan.

Kasi Pengendalian dan Pendayagunaan Balai Pusdataru Seluna Syam Sahida mengaku, pihaknya akan memberikan sosialisasi penggunaan sempadan dan bantaran sungai kepada warga Rahtawu, khususnya 22 pemilik wisata.

”Sekaligus memberitahukan bahwa penggunakan sungai dan sempadan itu harus ada izinnya. Terlebih jika dimanfaatkan sebagai sumber tenaga air,” tegasnya. (mal/lil/JPG/fer)

(rs/vit/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia