Sabtu, 17 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Sragen

Muncul Dugaan Kecurangan Seleksi Perdes

Selasa, 07 Aug 2018 20:15 | editor : Perdana

PERLU PENGAWASAN: Proses monitoring dan evaluasi yang dilakukan dalam seleksi perangkat desa.

PERLU PENGAWASAN: Proses monitoring dan evaluasi yang dilakukan dalam seleksi perangkat desa. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SRAGEN)

SRAGEN – Pelaksanaan ujian seleksi perangkat desa (perdes) digelar Senin (6/8) kemarin. Karena itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen langsung melakukaan monitoring dan evaluasi (Monev) terkait tes tersebut. Namun keluhan dan dugaan kecurangan masih saja ditemui terkait ujian Perdes ini.

Tim dari Pemkab dibagi menjadi dua, tim pertama dipimpin oleh Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Kemudian tim kedua dipimpin Wakil Bupati (Wabup) Dedy Endriyatno. Dalam hal ini tugas tim pertama memantau tes seleksi perdes di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan SMK Kedawung. Sedangkan tim kedua melakukan monev di tiga lokasi. Yaitu Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan di SMK Negeri 2 Sragen.

Wabup Sragen Dedy Endriyatno menyampaikan, sudah memantau di UMS. Dia menyampaikan di UMS dikumpulkan di aula, gabungan Computer Asistmen Test (CAT) dan manual. Yakni dengan memasukkan dalam flashdisk kemudian dikerjakan di komputer. Sedangkan di UGM dikerjakan menggunakan lembar jawab komputer (LJK).

Sejauh ini pihaknya tak menyangsikan kredibilitas dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) masing-masing perguruan tinggi yang bekerja sama. Dia berharap tak ada praktik kecurangan selama seleksi perangkat desa. ”Semoga tidak (curang, Red). Kita percaya dengan integritas pihak kampus,” tegas Dedy.

Sementara itu, Forum Masyarakat Sragen (Formas) turut memantau keberlangsungan tes seleksi perangkat desa di Sragen. Sesuai dengan imbauan ombudsman Jawa Tengah, memang perlu dilakukan pengawasan terkait seleksi perdes tersebut.

Berdasar pantauan yang dilakukan Formas di Sragen, banyak hal yang mengejutkan dan mengecewakan. Menurut Ketua Divisi Hukum dan HAM Formas, Sri Wahono diduga ada rekayasa terkait hasil seleksi ini.

Pihaknya menyampaikan dari hasil pengawasannya banyak calon perdes yang merasa kecewa. Sebagian dari mereka menduga komputer sudah di-setting dan direkayasa oleh panitia.

”Sebagian peserta kecewa, seperti mereka yang sudah meraih gelar sarjana kalah dengan lulusan paket C. Termasuk calon perdes dari lulusan D3 hukum dikandaskan oleh lulusan paket C,” terang Wahono.

Seleksi tersebut dinilai sangat mengecewakan dan tak jauh berbeda dengan seleksi mutasi perdes pada April lalu. ”Salah satu peserta ujian curhat bahwa calon perdes lulusan paket C mengoperasikan komputer saja lelet, kok bisa kerjakan dan nilainya tertinggi. Yang lihai komputer dan sarjana nilainya hanya 49. Kemungkinan komputernya sudah diprogram sedemikian rupa,” tudingnya. (din/edy)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia