Jumat, 19 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Travelling

Berkunjung ke Suku Baduy yang Hidup Menyatu dengan Alam (1)

Rabu, 12 Sep 2018 13:25 | editor : Perdana

Berkunjung ke Suku Baduy yang Hidup Menyatu dengan Alam (1)

Hidup menyatu dan bergantung hanya pada alam di tengah era modernisasi sudah menjadi prinsip bagi Suku Baduy yang dipegang teguh hingga saat ini. Tujuannya hanya satu, menjaga alam agar tidak rusak. Seperti apa kehidupan mereka? Berikut laporan wartawan koran ini yang berkunjung ke sana.

SEPTINA FADIA PUTRI, Lebak

WARGA Suku Baduy yang hidup di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, ini menjadi bukti bahwa di tengah perkembangan zaman yang makin tidak terkendali, mereka masih mampu setia bertahan hidup bersatu dengan alam. 

Suku Baduy juga berhasil membuktikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan keragaman budaya. Meski hidup di pedalaman, mereka bisa tetap harmonis hidup berdampingan dengan penduduk kota setempat tanpa terkontaminasi budaya luar.

Jawa Pos Radar Solo bersama tim Fakultas Hukum Universitas Surakarta (Unsa) berkesempatan mengunjungi Desa Adat Baduy. Dalam rangka pengabdian masyarakat di desa setempat, koran ini bersama rombongan merasakan kehidupan warga Baduy selama dua hari semalam. Meski waktu sangat singkat, namun cukup membuat koran ini merasa takjub dengan kehidupan sehari-hari yang dijalani penduduk Desa Baduy dalam mempertahankan kebudayaannya.

Rombongan koran ini sampai di Desa Ciboleger, Lebak, pukul 14.00 WIB. Desa Ciboleger adalah destinasi terakhir sebelum menuju ke Desa Baduy. Suku Baduy sendiri terbagi dalam dua golongan, Baduy Luar dan Baduy Dalam.

Semua moda transportasi berhenti dan diparkirkan di desa tersebut. Padahal, dari Desa Ciboleger menuju Desa Baduy Luar harus menempuh jarak 3 kilometer. Sementara untuk menuju Desa Baduy Dalam lebih jauh lagi, 12 kilometer. Jarak sejauh itu wajib ditempuh dengan berjalan kaki. 

Turun dari Desa Ciboleger, koran ini dan rombongan diterima dan disambut oleh Kepala Suku Baduy Luar, Jaro Saija dan Kepala Suku Baduy Dalam, Ayah Mursyid. Acara sambutan dilakukan di rumah adat kepala Suku Baduy Luar. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Desa Ciboleger. Menuju ke rumah adat tersebut, koran ini sudah disuguhkan dengan pemandangan indah rumah-rumah yang menggunakan bambu dan alang-alang sebagai atapnya. Lengkap dengan penghuninya yang memakai pakaian khas Baduy.

“Selamat datang di Desa Baduy. Terimakasih sudah berkunjung ke sini. Inilah Baduy. Tidak sama seperti tempat wisata lainnya. Kami terdiri dari dua desa. Baduy Luar dan Baduy Dalam. Baduy Luar, pakaiannya hitam dengan ikat kepala biru. Baduy Dalam, pakaian dan ikat kepalanya putih,” kata Jaro Saija dalam sambutannya.

Jaro menjelaskan, baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam sama-sama memiliki aturan yang wajib dipatuhi. Salah satunya tidak boleh membuang sampah sembarangan. Itu termasuk membuang putung rokok yang masih menyala.

“Kami punya banyak tempat sampah. Semua sampah harus dibuang di situ. Kita semua harus menjaga alam agar tetap bersih,” sambungnya.

Tempat sampah di sana unik. Terbuat dari anyaman bambu seperti tempat sampah yang biasa ditemui. Tapi bentuknya seperti corong. Dengan bambu yang menancap di bawahnya. Terlihat seperti obor. Tempat sampah itu tersedia di depan masing-masing rumah. Jadi tidak ada alasan untuk tidak membuang sampah pada tempatnya.

“Di Baduy Luar, pengunjung masih boleh menggunakan alat elektronik. Seperti saya saat ini, bisa menggunakan alat pengeras suara untuk bicara. Tapi kalau Ayah Mursyid, dari Baduy Dalam, sama sekali tidak menggunakan teknologi,” beber Jaro.

Ya, benar saja. Saat giliran Ayah Mursyid memberi sambutan. Ia menolak menggunakan alat pengeras suara. Jika ia nekat menggunakan, akan ada hukuman adat yang menantinya. Hukuman itu bisa berupa diasingkan selama 40 hari atau dikeluarkan dari desa. Tergantung keputusan lembaga adat. Terlebih Ayah Mursyid adalah tokoh adat yang menjadi panutan penduduk Desa Baduy Dalam.

“Saat 17 Agustus kemarin saya diundang datang ke Istana Negara oleh Presiden, saya jalan kaki,” ungkapnya.

Teknologi yang ditolak suku Baduy Dalam meliputi alat transportasi dan alas kaki. Kemanapun mereka bepergian, selalu berjalan kaki dengan tanpa alas kaki. Begitu pula Ayah Mursyid saat menghadiri undangan Presiden.

“Penduduk Baduy Dalam diperbolehkan merantau. Apakah aturannya masih berlaku? Itu beda cerita. Yang jelas, semuanya yang berada di Baduy Dalam harus menaati aturan. Tidak boleh menggunakan teknologi apapun,” tegas Ayah Mursyid.

Meskipun sama-sama tidak ada sambungan listrik dan tidak terjangkau sinyal, Baduy Dalam lebih kekeuh ketimbang Baduy Luar soal larangan penggunaan teknologi. Pengunjung Baduy Dalam dilarang menggunakan handphone atau kamera untuk memotret. Bahkan mereka tidak memakai sabun dan shampo saat mandi.

“Satu-satunya tempat membersihkan diri ada di sungai. Itu juga untuk mencuci pakaian, piring, dan aktivitas bersih-bersih lainnya,” tandas Ayah Mursyid.

Usai ramah tamah dan makan siang, koran ini melanjutkan tracking menuju Desa Baduy Luar. Seperti apa perjalanannya, ikuti tulisan ini  besok. (bersambung)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia