Jumat, 19 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Olahraga

Legenda Olimpiade Sambangi Pelatnas Anggar NPC

Kamis, 27 Sep 2018 16:45 | editor : Perdana

FOKUS: Atlet anggar NPC berlatih di lapangan futsal Sumber, yang jadi pelatnas persiapan Asian Para Games.

FOKUS: Atlet anggar NPC berlatih di lapangan futsal Sumber, yang jadi pelatnas persiapan Asian Para Games. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Tim wheelchair fencing optimistis menyumbang medali di ajang Asian Para Games 2018, yang akan dimulai 6 Oktober mendatang.

Para atlet anggar National Paralympic Committee (NPC) memang baru di bentuk sejak akhir tahun lalu, namun progresnya dianggap sukup menggembirakan. 

Salah satu atlet Olimpiade dari cabang anggar, Silvia Kristina menyempatkan diri melihat pemantapan tim ini

 “Mereka luar biasa. Mudah-mudahan mereka bisa lebih baik lagi. Ini kan pertama kali anggar dipertandingkan (di Asian Para Games). Sebagai tuan rumah, semoga mereka bisa berikan yang terbaik (untuk Indonesia). Kami sampaikan agar mereka tetap semangat dan tidak takut dengan siapapun lawannya,” ucapnya yang sempat turun di Olimpiade 1988 Seoul Korea Selatan.

 Rencananya, para atlet anggar akan terbang ke Jakarta pada Minggu (30/9) mendatang. Mereka akan adaptasi venue pertandingan di GOR Popki Cibubur Jakarta Timur.

Dua perunggu berpeluang bisa digapai anak didik Hendra Faradillah. Keyakinan ini bukan hanya mimpi di siang bolong. Sebab, hasil kejuaraan di Polandia, Juli lalu. Salah seorang atlet putri wheelchair fencing Indonesia, Elia berhasil tembus di babak 16 besar usai mengalahkan Tiongkok di babak 32 besar.

”Negara rival terberat adalah Tiongkok, Korea, dan Jepang. Kalau kami bisa menyalip salah satu negara tersebut, kan sudah bagus. Paling tidak, medali perunggu bisa kami dapat,” koar Hendra.

Dirinya paham dengan SDM atlet yang dibentuk dari nol, pembentukan tim yang baru saja digelar, ditambah alat latihan yang beberapa diantaranya merupakan rakitan dan belum berstandar internasional, tidak akan dijadikan sebagai kendala utama atlet binaannya untuk mengendurkan semangat.

 “Sejauh ini kami sudah persiapan pra-kompetisi. Tinggal hitungan hari lagi menuju kompetisi. Kami banyak latihan di teknik, taktik, dan strategi. Juga kompetisi dengan atlet eks Asean Games 2017. Kebetulan di Solo punya empat atlet. Kami uji tandingkan dengan mereka. Alhamdulillah atlet kami bisa mengimbangi atlet Asean Games,” bebernya.

Mendekati pertandingan, Hendra mengaku grafik atletnya semakin menanjak. Ia hanya tinggal menjaga ritme permainan. Juga selalu menjaga kondisi fisik dan kesehatan pemain. Terpenting, menanamkan kepercayaan diri agar bisa tampil prima.

“Sebelas atlet kami seluruhnya baru. Mereka bukan murni atlet anggar. Berasal dari berbagai cabang olahraga (cabor) lain, yakni atletik, voli duduk, dan panahan. Manusiawi kalau mereka nervous. Itu yang menjadi evaluasi kami tiap latihan,” katanya.

Kesulitan yang dialami pemain selama ini adalah tenaga dan pola pikir ekstra dalam bermain anggar. Selain itu, kursi roda yang digunakan pun bukan kursi roda yang bisa dijalankan. Sehingga hanya fokus menggunakan otot pinggang.

“Kami forsir mereka di otot pinggang, kecepatan tangan, dan konsentrasi. Semuanya dilakukan ekstra,” sambungnya. (aya/nik

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia