Senin, 17 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Features
Eksploitasi Satwa Lewat Atraksi Topeng Monyet

Satwa Alami Trauma Berat, Butuh Waktu Rehabilitasi

04 Oktober 2018, 12: 52: 43 WIB | editor : Perdana

Satwa Alami Trauma Berat, Butuh Waktu Rehabilitasi

Upaya menyetop eksploitasi satwa ini juga mulai ramai dikampanyekan melalui berbagai jejaring online mulai dari Instagram, Facebook, Twitter, hingga berbagai grup pertemanan di Whatsapp. Isinya berupa tulisan yang mengajak masyarakat untuk prihatin akan aktivitas eksploitasi satwa, terutama topeng monyet yang hingga hari ini masih marak terjadi di jalanan. 

Keprihatinan kemudian diwujudkan dengan wacana berkirim karangannya bunga ke Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di seluruh pelosok Indonesia mulai hari ini di kota masing-masing.

Salah satu pecinta satwa yang memasang info tersebut di akun pribadinya adalah Deo Fajar. Pria 28 tahun ini mengatakan bahwa diri sengaja memasang seruan tersebut untuk mengajak sesama pecinta satwa agar bersama-sama berkirim bunga ke BKSDA setempat. Dirinya merasa seluruh masyarakat wajib tahu akan ihwal tersebut. 

“Monyet untuk pentas, itu jelas eksploitasi satwa,” kata Deo pada Jawa Pos Radar Solo kemarin (3/10).

Sebagai pecinta satwa, dirinya menilai pemerintah kurang sigap menangani perkara tersebut. Sebab tindakan biasanya baru diambil pasca ada kejadian tidak mengenakkan dari adanya aktivitas tersebut. Misalnya saat ada seorang tergigit kera dan terekspose media. 

“Kalau ada kejadian baru bertindak. Saya pikir penanganannya hanya reaktif, tapi belum menyentuh inti perkaranya,” kata Deo.

Kepada kami, Pendiri Jakarta Animal Aids Network (JAAN) Femke Den Haas mengatakan bahwa pergunjingan soal topeng monyet sebagai tradisi atau eksploitasi satwa sebenarnya sudah dijawab kala Presiden Joko Widodo masih menjabat sebagai gubernur DKI.

“Pada 2014 silam, Jokowi sudah mengeluarkan larangan topeng monyet di DKI dan ditindaklanjuti dengan sidak ke lokasi-lokasi tempat penangkaran atau pemilik satwa itu. Hasil tangkapan waktu itu ada 120 monyet ekor panjang yang dititipkan ke kami (JAAN) untuk direhabilitasi,” jelas dia.

Pihaknya memerlukan waktu lama untuk menyukseskan rehabilitasi monyet-monyet  tersebut. Sebab, tingkat traumatik hewan primata hasil eksploitasi itu rata-rata sudah sangat parah. 

Mereka cukup ketakutan untuk berinteraksi dengan banyak hal. Bahkan monyet-monyet ini kehilangan alat pertahanan diri mereka di alam liar, mengingat taring-taring tajam yang dimiliki sudah dicabut paksa saat dilatih untuk atraksi. 

“Penyiksaan ini cukup luar biasa. Kami harus mengarantina dengan cara membuat grup agar hewan berkelompok ini bisa melindungi satu sama lain saat kembali dilepas di alam liar. Saat ini 120 monyet ekor panjang ini sudah kami kembalikan ke alam liar,” jelas Femke.

Meski penanganan soal atraksi topeng monyet belum begitu merata, namun sejumlah daerah sudah memiliki iktikad baik, seperti Pemprov DKI Jakarta sudah mengeluarkan larangan soal topeng monyet, diikuti Jawa Barat, Jawa Timur, dan daerah lainnya. 

“Saat ini ada 56 monyet ekor panjang yang masih kami karantina. Seluruhnya dari tangkapan tim BKSDA dan Pemerintah Jawa Barat,” beber dia.

Jika ingin penanganan membuahkan hasil, semestinya penjualan kera-kera ini bisa langsung ditangani. Terlebih satwa ini sangat mudah ditemui di pasar-pasar satwa di daerah setempat. Dan yang paling penting mengubah pola pikir para pelaku atraksi topeng monyet soal cara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

“Perlu dicari cara untuk mengubah pola pikir agar mereka sadar bahwa ada banyak jenis pekerjaan lain tanpa mengekploitasi satwa. Soal masalah pemburu kita serahkan saja pada yang berwajib,” ujar Femke. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia