Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Ingin Surga? Jangan Marah!

04 Oktober 2018, 20: 01: 51 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

H. Priyono, Wakil Dekan Fakultas Geografi UMS dan Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan.

H. Priyono, Wakil Dekan Fakultas Geografi UMS dan Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Klaten Selatan. (DOK.PRIBADI)

Dari Abu Hurairah RA, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rosulullah SAW: “Berilah wasiat kepadaku”. Rosulullah menjawab: “Janganlah engkau marah”. Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Rosulullah tetap berkata: “Janganlah engkau marah”. (H.R. Bukhari)

AMARAH ternyata sangat berbahaya. Marah yang tak terkendali terbukti dapat menyeret orang ke meja hijau bahkan dapat berujung pada kematian. Seperti dua kasus hukum yang dipicu kemarahan pengemudi di jalan raya baru-baru ini.

Pada Rabu (22/8) di tol Jagorawi di dekat pintu tol Cililitan Jakarta, seorang pria berbadan tegap berinisial MA memukul seorang bocah remaja, Rayhan Achmad (14), hingga hidungnya berdarah-darah. Pemukulan itu hanya dipicu karena MA marah dan tidak terima mobil di depannya  berhenti mendadak.  Kasus ini akhirnya diproses hukum.

Sementara pada Kamis (23/8) di Solo kejadiannya lebih tragis lagi, seorang pengendara mobil berinisial IA sengaja menabrak pengendara motor dari belakang hingga tewas di Jalan KS Tubun. Peristiwa yang merenggut nyawa pengendara motor tersebut dipicu persoalan sepele juga diawali cekcok karena kendaraan terhalangi. Pelaku tertangkap dan ditetapkan sebagai tersangka.

Ketika seseorang marah, sesungguhnya ia tengah bergelut dengan godaan hawa nafsu yang dahsyat. Dalam pandangan Islam, hawa nafsu itu dipersonifikasikan dengan pengaruh setan. Setan dapat sangat mudah mengendalikan manusia ketika manusia sedang marah.

Karena marah, orang dapat lepas kontrol sehingga dengan mudah mencaci-maki hingga bertindak anarkis/merusak apa yang ada di sekitarnya. Orang marah dapat membanting piring, melempar gelas, memukul orang, bahkan hingga membunuh orang lain. Saat itulah misi setan untuk menjerumuskan manusia tercapai.

Karena begitu besarnya bahaya menuruti amarah, maka ajaran Islam sangat menekankan kepada umatnya untuk berhati-hati ketika marah. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Berilah wasiat kepadaku”. Rosulullah menjawab: “Janganlah engkau marah”. Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Rosulullah tetap berkata: “Janganlah engkau marah” (H.R. Bukhari)

Larangan Rasulullah: “Janganlah engkau marah”, mengandung 2 makna yakni: pertama, perintah untuk melatih diri agar selalu bersikap sabar dan pemaaf, dan kedua, perintah untuk mengendalikan diri, ucapan, dan tindakan agar jangan sampai melampiaskan kemarahan yang tak terkendali.

Tapi marah memang merupakan sesuatu yang manusiawi. John B. Watson, pelopor aliran psikologi behaviorisme, menyebutkan bahwa manusia memiliki tiga emosi dasar, yaitu takut, marah, dan kasih sayang. Namun demikian, marah juga berkaitan erat dengan agresi dan kekerasan. Oleh karena itu, bila marah sudah mengarah pada agresi maka akan bersifat merusak. Marah yang tak terkendali akan merugikan diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Jika seseorang marah dan tidak berusaha untuk mengendalikannya, ia akan berbicara atau berbuat di luar kesadaran. Betapa banyak kasus kemarahan yang menyebabkan putusnya tali persaudaraan, rusaknya harta benda, bahkan hilangnya nyawa. Ada kasus ketika marah kalimat talak diucapkan suami, dan setelah reda marahnya ia sangat menyesalinya.

Ada juga orang tua yang sangat marah kepada anaknya sehingga memukul dan menganiayanya hingga anaknya cidera. Ada pula kasus orang marah yang memukul orang lain hingga terluka bahkan ada yang menabarak hingga mati seperti di uraikan di awal tulisan ini. Semua itu menunjukkan bahwa kemarahan yang tak terkendali akan menyebabkan keburukan. Dan keburukan itu kembali kepada si pemarah itu sendiri.

Maka dari itu, menahan marah adalah sifat terpuji dan berbuah surga. Sebagaimana sabda Rosulullah:

“Barangsiapa yang menahan amarah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, Allah akan panggil ia di hadapan para makhluk pada hari kiamat, hingga Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari (terbaik) yang ia inginkan.” (H.R. Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Tak heran jika menurut syari’at Islam bahwa yang disebut orang yang “kuat” adalah orang yang mampu melawan dan mengekang hawa nafsunya ketika marah. Rasulullah bersabda:

“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai/hebat dalam bergulat/berkelahi, namun orang yang kuat itu adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Semoga umat ini menjadi umat yang benar-benar “kuat”, yaitu umat yang mampu mengendalikan amarahnya. Lebih-lebih menghadapi tahun politik 2019 yang sudah semakin dekat ini, semoga kita tidak terbakar amarah dan bertindak anarkis hanya karena beda pilihan. Aamiin. (*)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia