Kamis, 18 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Sirine Meraung, Siswa Berhamburan Keluar Kelas Hindari Gempa

Jumat, 05 Oct 2018 07:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Siswa sekolah dasar (SD) di Solo ini berhamburan meninggalkan kelas masing-masing setelah mendengar sirine tanda bahaya, Kamis (4/10) pagi.

Siswa sekolah dasar (SD) di Solo ini berhamburan meninggalkan kelas masing-masing setelah mendengar sirine tanda bahaya, Kamis (4/10) pagi. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO - Sirine panjang tanda bahaya berbunyi di sebuah SD di Kota Solo, Kamis (4/10) pagi. Seluruh siswa dan guru sontak berhamburan keluar kelas. Barang-barang berjatuhan. Meja dan kursi porak-poranda. Beberapa siswa berlarian menuju halaman sekolah. Sementara siswa lainnya tetap tinggal di kelas dan memilih berlindung di bawah meja atau duduk di dekat lemari.

Tak lama kemudian sirine berhenti berbunyi. Mereka menghela napas panjang. Artinya, simulasi gempa sudah berakhir. Ya, datangnya bencana memang tidak dapat diprediksi. Sama halnya bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu.

Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu adanya bekal menghadapi serangan gempa yang bisa datang kapan saja. Antisipasi dini ini yang dilakukan siswa sekolah dasar (SD) di Solo dengan menggelar simulasi gempa.

Awalnya, kegiatan hanya berupa penggalangan dana untuk korban bencana saja. Pihak sekolah ingin mengedukasi para siswa tentang berbagi terhadap sesama yang membutuhkan.

“Namun kami juga ingin mengajarkan siswa tentang tanggap bencana. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Anak-anak sekaligus mengikuti kegiatan simulasi gempa dan cara menghadapinya,” beber salah satu guru pendamping Feri Indrawan usai pelaksanaan kegiatan kemarin.

Feri mengungkapkan, rangkaian kegiatan ini sebagai sarana edukasi siswa untuk tanggap darurat terhadap bencana alam.

“Karena tidak orang dewasa saja yang harus menyelamatkan diri, tetapi  anak kecil juga. Jadi kita harus mengedukasi  biar tahu bagaimana menyelamatkan diri apabila terjadi bencana atau gempa,” jelasnya.

Selain penggalangan dana dan simulasi gempa, seluruh siswa juga diajarkan untuk tanggap darurat terhadap korban bencana melalui aksi dokter kecil sekolah setempat. Para dokter kecil dibantu mobil ambulance dari Palang Merah Indonesia (PMI) Surakarta lengkap dengan alat-alat penanganan korban bencana.

Kepala Seksi Relawan PMI Surakarta, Barly menjelaskan penyebab banyaknya korban bencana gempa adalah kepanikan. Didukung dengan kurangnya pengetahuan tentang langkah-langkah penyelamatan pada saat terjadi gempa.

“Biasanya orang awam, apabila gempa terjadi posisi mereka di lantai 4 atau 5, dengan akses ke luar yang sangat lama mereka akan lari menyelamatkan diri. Padahal ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan diri,” terangnya.

Barly berharap dengan diadakannya kegiatan simulasi gempa, anak-anak bisa mengetahui langkah-langkah untuk menyelamatkan diri. Serta peran orang tua terhadap anak agar tidak panik dan bisa berpikir kritis saat terjadi situasi darurat.

“Dengan tetap tenang dan diimbau untuk mencari sesuatu di sekitar kita yang bisa dijadikan perlindungan diri seperti samping lemari, bawah meja, dan lain sebagainya,” ujarnya. (mg1/mg2/mg6/mg8/aya/bun)

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia