Sabtu, 20 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Lifestyle

Keminggris: Tren Miris atau Manis?

Jumat, 05 Oct 2018 08:30 | editor : Fery Ardy Susanto

Keminggris: Tren Miris atau Manis?

”Cowok aku yang which is pemain basket ganteng seantero Surabaya, literally so sweet banget loh! He even ngasih aku surprise pas ultah kemarin! Uwww, love him deh pokoknya!’’

NGGAK asing sama tulisan ”gado-gado” pencampuran bahasa Inggris dan Indonesia kayak di atas? Yup, itulah fenomena keminggris yang tengah melanda di tengah tren kalangan anak muda. Lebih dikenal dengan tren Jaksel, lantas apa sih yang membuat keminggris makin membudaya di kalangan teenager sekarang?

Bahasa Inggris memang menjadi bahasa internasional bagi seluruh negara, termasuk Indonesia, untuk dikuasai sebagai bahasa internasional. Pengaruh bahasa Inggris yang meluas lewat film atau musik memudahkan masyarakat untuk mengakses dan mempelajarinya.

Ternyata tren yang kini lebih dikenal dengan tren Jaksel tersebut terjadi sejak dulu loh. Sebelumnya, fenomena keminggris menjangkiti beberapa pejabat saat wawancara atau pidato. Misalnya, Anies Baswedan yang tengah diwawancara salah satu portal berita Indonesia.

”Kita punya penduduk 10 juta dan 30 persen earning less than 1 million per month. Dan bapak ibu semua menyadari what does it mean having 1 milion in the city like Jakarta. What can you do dengan angka itu? This is a problem,” ungkap Anies

Penulis Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris? Ivan lanin menanggapi fenomena itu. ”Code-mixing memang wajar terjadi dalam linguistik bahasa, tapi kalau sekadar untuk bergaya nggak bagus juga. Karena kebanyakan anak muda merasa belum keren kalau belum pakai bahasa Inggris. Karena itu, mereka memilih untuk jadi keminggris,’’ tuturnya.

Menurut dia, campur bahasa yang terdapat dalam kalimat-kalimat anak Jaksel mengandung pengulangan yang sifatnya mubazir dan malah nggak efektif. Usut punya usut, nama Jaksel dicatut dalam tren tersebut karena wilayah Jaksel didominasi tempat tongkrongan macam klub atau bar, pusat bisnis, sekolah favorit, hingga sekolah internasional.

Nggak heran bila proses kulturisasi dan penerimaan globalisasi seakan mudah masuk ke wilayah Jaksel. Padahal, nggak semua anak yang dianggap keminggris itu bermaksud bergaya loh.

Salah satunya, Vivi Gonearto dari Universitas Surabaya yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar di London sewaktu SMA. ”Alhasil, aku masih sering menyelipkan bahasa Inggris karena bingung. Meski sering dibilang sok-sok inggris banget sih jadi orang, well that’s fine toh aku juga nggak berusaha sok-sokan dan ini bentuk akulturasi budaya yang aku terima ketika exchange dulu. Jadi ya coba open minded aja dan terima perbedaan yang ada,’’ terangnya.

Terlepas dari tren itu, kita sebagai anak muda Indonesia tentu harus ingat fungsi dari bahasa Indonesia itu sendiri, yakni pemersatu bangsa. Jadi, gunakan bahasa Indonesia yang baik dan sebijaksana mungkin ya. (mel/c25/raf)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia