Senin, 17 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Features

Kisah Pilu Enam Warga Karanganyar Selamat dari Gempa-Tsunami Palu

06 Oktober 2018, 08: 55: 59 WIB | editor : Perdana

AKHIRNYA PULANG: Enam warga korban gempa-tsunami Palu disambut Bupati Juliyatmono.

AKHIRNYA PULANG: Enam warga korban gempa-tsunami Palu disambut Bupati Juliyatmono. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)

Enam orang warga Karanganyar yang sebelumnya sempat terkatung-katung pasca bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat kemarin (5/1) akhirnya bisa bertemu dengan keluarganya kembali di kampung halaman. Seperti apa kisah mereka hingga bisa selamat dari bencana?

RUDI HARTONO, Karanganyar

Beberapa pejabat terlihat duduk di teras rumah dinas bupati. Sesekali mereka menengok ke arah luar. Jelang beberapa menit kemudian sebuah mobil milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar masuk dan parkir di halaman, disusul sebuah mobil minibus. 

Setelah itu enam orang pria turun dari dalam minibus tersebut dan langsung disambut para pejabat pemkab. Ya, mereka adalah enam warga Karanganyar yang sebelumnya terkatung-katung di Palu. Akhirnya kemarin mereka bisa dievakuasi dan tiba di Karanganyar. Mereka adalah Dwi Purnomo, Dwi Wijayanto, Sugiyanto, Sutarwo, Apri Saryanto dan Suwarto.

Gurat kesedihan masih tampak di wajah enam warga yang sebelumnya mengaku di Palu bekerja sebagai kuli bangunan dari sebuah program pembuatan perumahan di Jalan Veteran, Palu Timur tersebut. 

Di hadapan Bupati Karanganyar Juliyatmono, mereka mulai cerita kisah pilu mereka selama di Palu. Dwi Wijayanto mengaku berangkat ke Palu bersama 11 temannya, lantaran ada tawaran dari warga Tawangmangu, yang menjadi mandor bangunan di sana. 

Saat kejadian musibah gempa dan tsunami tersebut, Dwi bersama teman-temannya baru perjalanan dari tempat kerjanya di Jalan Veteran menuju ke penginapan mereka di Jalan Ahmad Yani No 25, Kelurahan Biro Buli, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, dengan menggunakan kendaraan mobil pikap.

Namun, baru setengah perjalanan menuju ke penginapan, kondisi jalan yang saat itu turunan, dari arah bawah, Dwi melihat ribuan warga yang tinggal di pesisir pantai terlihat berlarian dan berteriak kalau air pantai naik. 

Teriakan warga tersebut juga diiringi dengan gempa. Mengetahui hal itu, Dwi bersama 11 temannya langsung menghentikan laju kendaraan. Enam orang memilih bertahan di atas mobil dan mencari jalan lain. Kemudian enam orang lainnya memutuskan kembali mencari dataran tinggi.

“Awalnya kami mau lembur, tapi saat itu air mati, kemudian kami berniat kembali ke mess atau penginapan. Tapi malah ada kejadian itu (tsunami dan gempa),” ujar Dwi.

Posisi saat itu, Dwi melihat jalan-jalan utama di kota tersebut sudah bergeser dan retak-retak. Karena panik, Dwi bersama lima temannya itu kemudian berjalan kaki. Tanpa bekal apapun, karena selama sebulan belum mendapatkan gaji. 

Mereka nekat berjalan selama berjam-jam untuk kembali ke tempat kerjanya. Namun saat tiba di lokasi, perumahan yang mereka bangun sudah rata dengan tanah, karena roboh terdampak gempa.

“Ada teman saat melihat itu mau pingsan, karena sudah kehabisan tenaga dan tidak ada air minum. Kami hanya berpikir bagaimana bisa menyelamatkan diri dulu,” ujar wi yang mengaku asli warga Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar ini.

Setelah merasa dalam kondisi aman, dengan pakaian seadanya, Dwi bersama lima rekannya tersebut ikut membaur dengan warga lain di Kota Palu agar bisa tetap bertahan hidup. Saat itu dia teringat masih membawa handphone. Dengan kondisi baterai HP hampir drop, dia lalu membuka grub di jejaring sosial dan menceritakan kondisi kejadian di Palu.

“Saya sempat berkomentar di grub facebook Info Cegatan Karanganyar itu Mas. saya juga tinggalkan nomor HP saya, kemudian langsung direspons oleh teman-teman relawan dari Karangpandan, kemudian kami berkomunikasi dan alhamdulillah bisa kembali,” beber Dwi.

Hal senada juga diungkapkan Dwi Purnomo yang kala itu memutuskan untuk menyelamatkan diri bersama Dwi Wijayanto dan empat temannya. Ia mengaku, setelah gempa tidak  membawa uang sama sekali, lantaran sebulan bekerja belum digaji. Ditambah ATM di Kota Palu tidak berfungsi sama sekali karena seluruh jaringan listrik dan internet putus.

“Setelah kami kontak dengan teman-teman dari Relawan Karangpandan, akhirnya diminta mendatangi  rekan-rekan TNI di sana. Akhirnya kami bisa diangkut dengan pesawat Hercules milik TNI dari Palu ke Balikpapan. Kemudian di Balikpapan naik pesawat komersil menuju ke Surabaya. Tiketnya dibelikan teman-teman relawan dari hasil penggalangan dana,” ujarnya.

Lalu bagaimana nasib lima rekannya asal Karanganyar yang memutuskan masih bertahan di Palu. Dwi mengatakan, kondisi mereka masih selamat. Saat ini mereka bersama para pengungsi lain. Mereka enggan pulang ke Karanganyar karena belum lama bekerja di Palu. (*/bun)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia