Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Institut Seni Indonesia Surakarta Gelar Batik Art Festival

06 Oktober 2018, 12: 12: 28 WIB | editor : Perdana

PROSES DASAR: Mahasiswa Program Studi Batik Fashion, FSRD ISI Surakarta membatik 12 jam di Gedung Ekspresi Sungging Prabangkara, Jumat (5/10).

PROSES DASAR: Mahasiswa Program Studi Batik Fashion, FSRD ISI Surakarta membatik 12 jam di Gedung Ekspresi Sungging Prabangkara, Jumat (5/10). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Eksistensi batik sebagai warisan budaya Indonesia semestinya harus dijaga dan dilestarikan. Berawal dari sini, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia Surakarta menggelar Batik Art Festival (BAF). Berlangsung di Kampus 2 ISI Surakarta, Jumat-Sabtu (5-6/10). BAF ketiga ini mengusung tema Dahayu Niwasana Truntum. 

Diawali membatik selama 12 jam di Gedung Ekspresi Sungging Prabangkara. Motif batik yang dipilih yakni truntum has Kota Solo. Quintanova Riziqino, Ketua Panitia 2 BAF 2018 menjelaskan, Solo punya motif batik beragam. Di dalamnya mengandung filosofi luar biasa.

”Kami memilih Truntum untuk event tahun ini. Menceritakan riwayat seorang putri keraton yang setia menunggu pangerannya saat sedang berjuang. Kalau motif truntum ini menggambarkan bunga tanjung,” kata Quintanova kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (5/10).

Pengunjung dikenalkan bagaimana proses membatik. Selain itu, juga sebagai bentuk eksistensi Prodi Batik ISI Surakarta yang berbasis kearifan budaya lokal. Kain yang dipakai mori yang sudah digambari pola.

Proses membatik dilakukan empat mahasiswa semester 1 Prodi Batik Fashion. Menariknya, pembatik mengenakan busana layaknya seorang penari. Hanya saja, dalam prosesnya, cuma pemenuhan pola batik saja. Belum termasuk proses pewarnaan, pelorotan, hingga finishing.

”Semua mahasiswa di Prodi Batik Fashion harus bisa membatik. Bukan hanya teori, namun lebih ke proses inovasi dari tradisi ke batik-batik modern. Dan bisa mengeksplor kain batik menjadi busana yang kekinian,” ungkapnya.

Quintanova berharap melalui kegiatan ini para pengunjung bisa melihat proses pembuatan batik dari awal hingga akhir. Para mahasiswa juga bisa menunjukkan eksistensinya dalam membatik.

Rencananya, hari ini pengenalan Batik Truntum akan dilanjutkan dalam event Jelajah Truntum. Peserta akan diajak bermalam di salah satu pengunungan.

”Besok (hari ini) ada jelajah batik truntum. Kami akan mengajak peserta jelajah bermalam di pegunungan. Kemudian mereka kami minta melihat bintang, sambil menceritakan sejarahnya. Kami hadirkan narasumber yang paham tentang sejarah batik,” beber Quintanova. (mg1/mg8/mg9/aya/fer)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia