Sabtu, 20 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Jateng

Diduga Hipotermia, Peserta Pra Diksar Menwa Meninggal

Senin, 08 Oct 2018 10:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Salah satu warga melihat tempat yang diduga sebagai lokasi pingsan peserta Pra Diksar Menwa 0923 Gondowingit, Kukuh Muhammad Isa di Desa Jurang, Gebog, Kudus, Minggu (7/10).

Salah satu warga melihat tempat yang diduga sebagai lokasi pingsan peserta Pra Diksar Menwa 0923 Gondowingit, Kukuh Muhammad Isa di Desa Jurang, Gebog, Kudus, Minggu (7/10). (FARUQ HIDAYAT/RADAR KUDUS)

KUDUS – Kukuh Muhammad Isa, 18, Peserta Pra Pendidikan Dasar Satuan Resimen Mahasiswa (Pra Diksar Menwa) salah satu perguruan tinggi di Kudus meninggal dunia Jumat (5/10). Sebelumnya Kukuh mendapat perawatan di Rumah Sakit Islam (RSI) Kudus. Diduga korban alami hipotermia.

Kematian mahasiswa semester satu ini ramai diperbincangkan di media sosial dan whatsapp kemarin. Penyebab meninggalnya korban pun sempat menimbulkan tanda tanya.

Korban dikabarkan pingsan saat mengikuti kegiatan pada Jumat (5/10) sore sekitar pukul 17.00. Korban kemudian dibawa ke RSI Sunan Kudus. Setelah mendapat perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU) Kukuh akhirnya menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 19.00.

Ketua Menwa Batalyon 923 Ahmad Amin membenarkan adanya calon anggota menwa yang meninggal. Ia menjelaskan, korban semula mengikuti kegiatan Pra Diksar Menwa yang digelar selama enam hari. Mulai Senin (1/10) sampai Sabtu (6/10).

Hari pertama pelatihan korban dalam kondisi sehat. Namun, kejanggalan kondisi fisik korban terlihat di hari kelima. Hari itu ada sejumlah kegiatan yang dilakukan. Di antaranya berjalan dari Mejobo dan  Dawe.

Berikutnya calon menwa melaksanakan repling di sekitar jembatan Sungai Gelis, Desa Jurang, Gebog. Yakni menuruni ketinggian dengan media tali dari jembatan ke sungai. Ketinggian sekitar lebih dari tujuh meter. Tapi sebelum sampai di Gebog, tubuh korban lemas.

”Saat jalan arah ke Desa Jurang, Gebog, sempat drop. Lalu, saya istirahatkan. Setelah ia (Kukuh) merasa kondisinya sudah agak mendingan, dia ingin melanjutkan perjalanan,” ungkapnya seperti dilansir dari Jawa Pos Radar Kudus.

Tiba di desa jurang, lanjut kegiatan repling di jembatan. Saat itu, kondisi tubuh  tidak memungkinkan. Korban tidak diperbolehkan ikut repling. Karena tidak boleh korban hanya melihat teman-temannya.

Korban, lanjutnya, tetap ingin gabung. Padahal sudah diberitahu panitia untuk istirahat. Panitia kemudian mengantarkan ke bawah jembatan melewati jalan setapak turunan.

”Saat itu, air di sungai dangkal karena musim kemaru. Kedalaman hanya di bawah lutut,” ujarnya.

Lalu, lanjutnya, korban bermain air bersama peserta lain. Tiba-tiba korban pingsan dan dipinggirkan. Karena khawatir lalu dilarikan ke Puskesmas Gondosari karena keterbatasan fasilitas dirujuk ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSI.

Setelah menjalani perawatan korban, akhirnya menghembuskan nafas terakhir pukul 19.00. Korban meninggal akibat hipotermia. Hipotermia merupakan penyakit yang membutuhkan penanganan medis segera.

”Kami sama sekali tidak merencanakan ini. Kami ikut berduka. Kami dan rektor kampus juga sudah ke rumah duka meminta maaf. Dari keluarga korban juga sudah mengikhlaskannya,” tuturnya. (ruq/zen/JPG/fer)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia