Sabtu, 20 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Features

Mengungkap Modus Penipuan Berkedok Pertemanan Di Dunia Maya (2)

Tebar Banyak Akun, Tak Sadar Masuk Jebakan

Senin, 08 Oct 2018 08:30 | editor : Perdana

Mengungkap Modus Penipuan Berkedok Pertemanan Di Dunia Maya  (2)

Salah satu pelaku aksi penipuan via pertemanan di medos sebut sana Benny mengaku sering memperdaya teman wanita yang dikenal lewat jejaring sosial. Dia mengaku hal itu ia lakukan dengan melihat profil calon korbannya.  

Seperti anak muda zaman sekarang, Benny juga memiliki banyak akun di berbagai media sosial. Bahkan dalam satu aplikasi saja dirinya memiliki lebih dari lima akun berbeda. Alasannya, untuk menjaring pertemanan yang lebih luas. 

“Hampir setiap aplikasi pertemanan saya punya. Tapi hanya beberapa yang masih saya pakai karena yang lainnya sudah lupa password-nya,” jelas Benny.

Karena dirinya pria, jelas pertemanan yang ia harapkan adalah dengan para wanita. Dari sana dirinya mengaku selalu berhasil mendapatkan seorang pacar baru yang selalu bisa ia manipulasi untuk memenuhi biaya hidupnya sehari-hari. 

“Biasanya yang memenuhi kebutuhan harian saya itu pacar. Saya tidak pernah minta, pacar saya sudah hafal dan selalu memberikan apa yang saya ingin sebelum saya minta,” jelas Beni.

Ia pun tak pilih-pilih dalam mencari tambatan hati di jejaring sosial. Bisa dibilang segala jenis usia, dan ukuran dilahap. Maka jangan heran jika pria yang satu ini kerap bergonta-ganti pasangan. 

“Biasanya saya akrabi dulu. Sekadar menyapa dan bicara yang ringan-ringan. Nanti kalau mulai akrab bisa ditawari untuk ketemu. Saat itu saya yang mengeluarkan uang untuk kencan agar lebih dipercaya. Kalau sudah dapat, mau minta apapun pasti boleh,” jelas dia.

Untuk saat ini, dirinya sedang tidak begitu aktif seperti 2-3 tahun lalu. Pasca foto dirinya di-upload atas nama penipuan di media sosial, dirinya mulai menghapus semua akun miliknya untuk menghapus jejak.

Terkait aksi penipuan lewat pertemanan di medos ini, Psikolog Juliani Prasetyaningrum mengatakan, penggunaan internet di era modern semacam ini bagai pisau bermata dua. Di satu sisi hal itu bisa sangat berguna dan mengedukasi masyarakat jika digunakan dengan cara yang bijak yang benar. Sebaliknya, hal itu bisa sangat merukan jika digunakan untuk berbagai hal yang tidak semestinya dilakukan di lingkup ruang publik.

Juliani mencontohkan, seiring dengan masifnya pengguna internet di belahan dunia, kejahatan internet juga ikut meningkat. Awalnya, kejahatan internet lebih pada model pencemaran nama baik, penipuan, maupun pelanggaran pada konten larangan seperti judi, pornografi, dan pornoaksi. 

Kini model kejahatan internet telah berkembang sedemikian rupa mulai dari kasus pelarian anak di bawah umur yang diawali lewat pertemanan di jejaring sosial, hingga transaksi seks berbasis internet. 

“Saya yakin seratus persen pelaku ini bukanlah orang awam yang hanya mengandalkan kesempatan. Mereka jelas pemain yang cerdas yang sudah melakukan observasi akan calon korbannya. Parahnya, di saat seperti ini calon korban tidak sadar masuk perangkap,” tegas Juliani.

Juliani cukup prihatin karena korban penipuan semacam ini atau lebih tepatnya bujukan dan rayuan ini rata-rata adalah wanita. Meski tak menutup kemungkinan ada saja pria yang terkecoh. 

“Wanita jauh lebih mudah disusupi bujuk rayu macam ini karena emosinya yang jauh tidak stabil dibanding pria. Kebanyakan mereka yang menjadi korban adalah yang sudah diketahui ciri psikologisnya oleh pelaku. Cukup rutin memantau aktivitas calon korban di jejaring sosial,” kata dia.

Dalam kasus penipuan dengan bujuk rayu itu biasanya korban terbiasa memposting aktivitas pribadinya di media sosial. Atau bahkan sudah memposisikan media sosial sebagai kawan untuk bertukar pikiran akan masalah-masalah pribadi yang dialami. Hal semacam ini justru membuat celah untuk bisa disusupi oleh orang asing. Kuncinya hanya perlu berempati pada calon korban. 

“Biasanya pelaku memosisikan diri untuk terus perhatian dengan calon korban. Setelah semua itu direspons, pelaku akan mulai melancarkan bujuk rayu untuk meraih keuntungan dari si korban. Perlu diingat, terkadang kerugian korban tak melulu soal material namun juga imaterial,” tegas Juliani.

Maka dari itu, paling penting adalah mengantisipasi diri sendiri. Membentengi diri agar tak mudah termanipulasi oleh pola pertemanan di jejaring sosial yang sudah sedemikian terbuka seperti ini. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia