Kamis, 18 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Dolar Menguat, Industri Furniture Raup Untung Lebih

Senin, 08 Oct 2018 15:55 | editor : Perdana

MENDOMINASI: Produk-produk kerajinan furniture dalam ruangan banyak diminati negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat. Permintaan ekspor mebel mengalami lonjakan signifikan.

MENDOMINASI: Produk-produk kerajinan furniture dalam ruangan banyak diminati negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat. Permintaan ekspor mebel mengalami lonjakan signifikan. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) Surakarta ikut terimbas melemahnya nilai tukar rupiah. Mereka mengaku omzet yang didapat meningkat. Karena aktivitas ekspor menggunakan patokan mata uang dolar.

Ketua Himki Surakarta, Adi Dharma Santoso menjelaskan, pascamenguatnya dolar terhadap rupiah, ada kenaikan sebesar 15 persen. Terhadap omzet para pengusaha mebel. Apalagi barang yang dipesan lebih murah dibandingkan biasanya. Sehingga permintaan dari luar negeri otomatis meningkat.

”Karena dolar menguat, barang yang dikirim ke luar negeri lebih murah dibandingkan biasanya. Sehingga permintaan bertambah,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Sabtu (6/10).

Sayangnya, belum semua pengusaha mebel berbasis ekspor bisa memanfaatkan situasi ini. Karena Amerika Serikat bukan pasar utama bagi para pengusaha mebel di Eks Karesidenan Surakarta. Sejauh ini pasar yang paling banyak menjadi tujuan ekspor pengusaha mebel masih menyasar negara-negara Eropa.

Sedangkan Amerika Serikat baru sebatas pasar kedua bagi para pengusaha. Kendati demikian, pasar Amerika dinilai masih cukup besar. Yakni sekitar 40 persen dari total pasar ekspor mebel dari Indonesia.

”Kalau untuk pengiriman sendiri, bervariasi. Satu perusahaan bisa mengirimkan 2-20 kontainer per bulan khusus ekspor. Tergantung dari kapasitas dan permintaan pasar ekspor itu sendiri,” sambung Adi.

Untuk saat ini, permintaan mebel dari Amerika masih didominasi barang interior. Biasanya hanya terjadi pada periode Agustus hingga Februari yang menjadi momen meningkatnya permintaan furniture di luar ruangan. Sedangkan untuk waktu lainnya, permintaan paling banyak untuk furniture dalam ruangan. 

Peningkatan omzet tersebut semata bukan hanya dipengaruhi menguatnya dolar. Namun juga dampak dari perang dagang yang terjadi antara Amerika dengan Tiongkok. Kondisi ini berdampak pada konsumen yang akhirnya mengalihkan permintaan ke negara lain, salah satunya Indonesia.

”Jadi kami kena dampak positif dari perang dagang ini. Harapannya ini bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh pelaku usaha mebel di Eks Karesidenan Surakarta,” beber Adi. (vit/fer)

(rs/vit/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia