Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Pemdes Pluneng Panen Kritik Dari Bupati Klaten

08 Oktober 2018, 17: 35: 27 WIB | editor : Perdana

DISOROT:  Syukuran Banyu di Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Minggu (7/10).

DISOROT:  Syukuran Banyu di Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Minggu (7/10). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN –  Kirab dan Syukuran Banyu di Umbul Pluneng, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Minggu (7/10) menuai kritikan. Bupati Klaten, Sri Mulyani menyindir kinerja pemerintah desa (Pemdes) setempat. Karena dua kali gagal menyerap anggaran pengembangan destinasi wisata Umbul Pluneng.

”Sudah dua tahun Desa Pluneng kami anggarkan dari APBD sebesar Rp 2 miliar. Tetapi malah tidak bisa diserap. Anggaran itu untuk membangun parkir, booth kuliner, hingga wahana bermain,” sindir Sri Mulyani saat memberikan sambutan.

Umbul Pluneng sejatinya punya potensi menarik untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata air terpadu. Apalagi sumber mata air yang keluar dari dasar kolam dikenal mujarab untuk terapi.

”Tahun depan kami anggarkan lagi Rp 2 miliar. Tadi sudah berbisik-bisik dengan pak kepala desa dan camat. Tahun depan harus bisa dilaksanakan. Kalau tidak punya kompoten yang menggarap umbul, ya cari konsultan,” tegas Sri Mulyani.

Bupati juga meminta kades mematangkan perancanaan pengembangan Umbul Pluneng. Dirinya mewanti-wanti jika gagal lagi dalam menyerap anggaran, akan dialihkan untuk desa lain.

”Tadi sudah disampaikan pak kepala desa, jika omzet Umbul Pluneng Rp 1 miliar. Tolong ke depannya dibenahi lagi. Khususnya untuk fasilitas kamar mandi. Saya harap dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan,” tandasnya.

Di sisi lain, bupati bangga dengan potensi sumber mata air yang ada di Kecamatan Kebonarum. Tiga dari tujuh desa yang ada, memiliki potensi serupa. Yakni Desa Ngrundul, Malangjiwan, dan Pluneng sendiri.

Sementara itu, Kades Pluneng, Wahyudi berkilah anggaran tidak bisa diserap karena masalah administrasi. ”Hanya masalah sistem saja. Kemarin kami juga menggunakan konsultan dalam perencanaannya. Namun ada yang perlu direvisi,” kilahnya.

Hal yang perlu direvisi, menyangkut pembuatan detailed engeneering design (DED) yang masih dibuat manual. Seharusnya dibuat dengan sentuhan teknologi. ”Total lahan yang akan kami kembangkan seluas 3.800 meter persegi. Masih tanah kas desa. Untuk dibangun waterpark,” urainya.

Sebagai informasi pengunjung yang hendak masuk ke Umbul Pluneng perlu merogoh kocek Rp 5.000 per orang. Mereka sudah bisa berenang di sejumlah kolam. Pada hari biasa, pengunjung bisa mencapai 600 orang. Sedangkan saat akhir pekan tembus 800 orang. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia