Sabtu, 20 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Bantu UMKM, BKPED Klaten Adopsi Konsep Pasar Tiban

Senin, 08 Oct 2018 18:15 | editor : Perdana

DITIRU:  Pasar tiban di Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Klaten yang digelar BKPED.

DITIRU:  Pasar tiban di Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Klaten yang digelar BKPED. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Pemasaran produk sering jadi momok pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Klaten. Hal ini ditangkap Badan Kerjasama Pelaku Ekonomi Daerah (BKPED). Strateginya dengan mengadopsi konsep pasar tiban. Mempertemukan pedagang dan pembeli. Harapannya bisa memfasilitasi transaksi jual-beli para pelaku UMK tanpa adanya perantara.

”Selama ini UKM baru sebatas produksi, tetapi ada kendala pemasaran. Meskipun saat ini sudah ada penjualan secara online. Tetapi saya melihat pembeli ingin bertemu langsung dengan penjualnya. Maka kami adopsi konsep pasar tradisional ini,” jelas Ketua BKPED Klaten, Sunarto kepada Jawa Pos Radar Solo di pasar tiban Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Minggu (7/10).

Konsep pasar tiban menjembatani pelaku UKM dan pembeli. Baru pertama kalinya dilakukan di Klaten. Direncanakan kegiatan serupa akan diadakan setiap 35 hari sekali di tempat berbeda. Ada lima pasaran penanggalan Jawa yang akan diisi pasar tiban.

Sebanyak 100 booth UKM menggelar berbagai produknya di Desa Kalikebo. Mulai dari olahan makanan, batik, hingga perabotan rumah tangga. Terdiri dari pelaku UKM desa setempat hingga berkolaberasi dengan tingkat kabupaten.

”Kami ingin melihat respon dari warga terhadap hadirnya pasar tiban ini terlebih dahulu. Tapi ada rencana untuk diadakan secara rutin setiap Minggu kliwon. Tentunya untuk pengelolaan kedepannya akan dilakukan kerjasama dengan BUMDes setempat,” terang Sunarto.

Pemasaran memang jadi momok. Guna meningkatkan penjualan, tidak hanya fokus pada kualitas dan kemasan produk saja. Tetapi memperluas jaringan konsumen.

Potensi pelaku UKM di Klaten cukup besar. Berdasarkan data BKPED, mencapai 80 ribu orang. Hanya saja berbagai masalah sering menghinggapi. Terutama yang sedang merintis usaha.

”Kalau di sisi permodalan, saat ini memang sudah banyak bank-bank yang melakukan pendekatan sehingga mudah mengaksesnya. Hanya saja dalam menghadapi permasalahan pemasaran diperlukan terobosan,” urai Sunarto.

Salah seorang pelaku UKM asal Desa Kalikebo, Nurul Yulianti, 30, mengaku sudah dua bulan menggeluti usaha batik. Animo dari pembeli cukup bagus. Dalam sebulan mampu menjual 100 potong kain batik.

”Pemasaran selama ini baru sebatas di Klaten. Penjualannya hanya lewat aplikasi chat saja. Harapannya dengan pasar tiban ini, bisa memperluas jaringan penjualan batik saya,” bebernya. (ren/fer

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia