Sabtu, 20 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Features

Orang Jepang ini Belajar Tari Jawa, Pulang Dirikan Sanggar

Selasa, 09 Oct 2018 07:05 | editor : Perdana

Miray Kawashima, Pegiat Tari Jawa di Jepang

Miray Kawashima, Pegiat Tari Jawa di Jepang

Saat generasi muda sekarang mulai melupakan tarian Jawa, fenomena berbeda justru ditemui di Jepang. Di Negeri Sakura, tepatnya di Kota Tokyo, ada sosok yang getol mengembangkannya. Dialah Miray Kawashima, pemilik sanggar tari Dewandaru Dance Company.

AMALIA MUFIDDAH-DEVITA INDRI, Solo

Suara gamelan terdengar mengalun di Pendhapa Agung Pura Mangkunegaran, Rabu (19/9) malam. Waktu itu sedang ada peringatan kenaikan takhta Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mengkunegara IX.

Di salah satu sudut di dalam pendhapa, nampak sesosok wanita berkebaya hijau toska. Duduk serius memperhatikan Tari Bedhaya Anglir Mendung. Tarian sakral yang wajib ada dalam upacara kenaikan takhta tersebut. Menambah khidmat prosesi adat Wiyosan Jumenengan Kaping 13 Pura Mangkunegaran ini.

Ya, sosok tersebut tak lain Miray Kawashima. Warga Negara Jepang yang sangat gandung akan budaya Indonesia, khususnya tarian Jawa.

”Tari Jawa sangat indah, anggun, dan halus. Terkadang juga misterius. Itulah yang membuat saya tertarik dan kesengsem dengan tarian Jawa,”kata Miray saat dijumpai Jawa Pos Radar Solo.

Kecintaan Miray terhadap keseni ini muncul sejak masih remaja. Wanita paro baya kelahiran Tokyo, Jepang, 19 Semptember ini lalu melanjutkan kuliah Strata 1 (S1) di Kyoritsu Women University Tokyo. Mengambil jurusan seni.

Karena bekal yang didapat tentang tarian Jawa kurang, Miray memutuskan belajar langsung ke sumbernya. Dipilihlah Kota Solo untuk belajar. Usai mendapat referensi dari berbagai sumber.

Di 2001, Miray memulai petualangannya di Kota Bengawan dengan menjadi mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Berlajar beraneka ragam tarian khas Jawa. Mulai dari Golek Mugirahayu, Gambyong Pangkur, Putri Rantoyo, dan sebagainya. ”Sesekali juga ikut latihan menari di Pura Mangkunegaran,” terang wanita yang bekerja di toserba khusus barang-barang impor asal Eropa tersebut.

Tak hanya bekal menari yang didapat Miray. Dia juga menemukan pria tambatan hatinya di Kota Bengawan. Pria beruntung tersebut tak lain Rianto, asal Purwokerto, Jawa Tengah. ”Kebetulan suami saya itu juga seniman. Dia sering menari Lengger Banyumasan karena memang asalnya dari sana,” bebernya.

Tiga tahun berkelana di Solo, usai wisuda di 2004, Miray merasa sudah punya bekal memadai. Bersama suaminya, dia memutuskan pulang ke Tokyo. Tertantang mengenalkan tarian Jawa di Negeri Sakura, Miray memberanikan diri membuka sanggar.

Tepat pada 2006, berdirilah sanggar tari Dewandaru Dance Company yang dirintis bersama suami tercintanya. Sanggar tersebut menempati sebuah ruangan kosong di kediamannya. Beralamatkan di 4-40-11 Honkomagome Bunkyo-ku, Kota Tokyo. ”Saat ini masih ada sekitar 20 murid yang belajar di sanggar saya,” ucap Miray.

Ada biaya khusus bagi murid yang ingin belajar tarian Jawa di sanggar milik Miray. Hanya saja dia enggan menyebutkan nominalnya. Tak sekadar belajar menari, sering murid-murid diajak Miray manggung di berbagai tempat.

Bahkan, Miray bersama muridnya di Dewandaru Dance Company pernah pentas di berbagai negara. Sebut saja di Australia, Singapura, bahkan sampai ke Hawaii. ”Sambutan penonton di tiga negara itu sangat bagus sekali. Tertarik dengan tarian Jawa yang kami bawakan,” sebutnya.

Setelah sekian lama, Miray kembali lagi ke Kota Bengawan. Melihat langsung Tari Bedhaya Anglir Mendung di Pura Mangkunegaran, akhir September kemarin. ”Sebenarnya ingin sekali ikut menari Bedhaya Anglir Mendung. Tapi tidak bisa. Karena ini tarian sakral, ada syaratnya. Penarinya harus perempuan yang masih gadis atau single,” urainya. (*/fer/bun)

(rs/fer/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia