Senin, 17 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Warga Kembali Demo, PT RUM Tegaskan Sudah Berhenti Beroprasi

09 Oktober 2018, 08: 55: 59 WIB | editor : Perdana

TAK MENYERAH: Warga Nguter kembali menggelar aksi di depan PT RUM Sukoharjo.

TAK MENYERAH: Warga Nguter kembali menggelar aksi di depan PT RUM Sukoharjo. (RYANTONO PS/RADAR SOLO)

SUKOHARJO - Warga Kecamatan Nguter kembali menggelar aksi kemarin (8/10) pagi. Mereka menuntut agar PT Rayon Utama Makmur (RUM) berhenti berproduksi sesuai kesepakatan sebelumnya. Sebaliknya, pihak PT.RUM menegaskan sudah menghentikan produksinya.  

Pembina Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Ari Suwarno mengatakan, warga menggelar aksi lantaran mereka masih sanksi bahwa PT.RUM sampai kemarin belum menghentikan produksinya. Mereka melihat indikasi masih beroperasinya PT.RUM dari bau yang dihasilkan. “Baunya kopi, pete, jengkol, dan septictank,” katanya. 

Karena itu warga kembali menggelar aksi di halaman depan pintu masuk PT RUM kemarin. Mereka membawa berbagai spanduk bentuk unjuk rasa. Sampai kemarin pukul 14.00, Ari menyatakan bahwa perempuan pejuang lingkungan masih menggelar aksi. 

Mereka dalam spanduknya meminta agar PT RUM berhenti beroperasi karena bau yang dihasilkan merugikan warga. “Para peserta aksi kemarin mulai pukul 10.00,” ujar Ari Suwarno.

Dikonfirmasi soal aksi warga ini, Sekretaris PT RUM Bintoro Dibyoseputro mengatakan, secara teknis produksi sudah berhenti. Dia mengatakan, apa yang didengar masyarakat dari luar adalah pembangkit listrik. “Pabrik uap jalan karena harus ada menyuplai listrik. Namun masyarakat berpersepsi (mesin produksi) masih nyala,” paparnya. 

Dia menuturkan, usaha yang sudah dilakukan PT RUM yakni memeriksa setiap detail sambungan. Ada 12 ribu sambungan dalam PT RUM. Selain itu, ada 4.000 valve/kran putaran. “Bila sehari kami teliti 24 sambungan, maka perlu 500 hari atau 1,5 tahun,” papar dia. 

Hal tersebut juga menjadi alasan tentang rentang waktu mengapa PT RUM dikenai sanksi administratif berhenti 1,5 tahun untuk berbenah. Pihaknya mengaku bekerja keras sehingga dalam 6 bulan atau sepertiga waktu bisa diselesaikan bila akan beroperasi ulang. Saat ini mereka sedang memeriksa ulang semua titik kritis. 

“Kemarin kami juga kedatangan orang dari KLH (Kementerian Lingkungan Hidup). Mereka mengecek dan hasilnya di bawah ambang. CEMS dan pipa sudah terpasang baik,” akunya. (yan/bun)

(rs/yan/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia