Jumat, 19 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Sragen

Kerusakan Jembatan Bejingan Hambat Bisnis Batik

Selasa, 09 Oct 2018 20:55 | editor : Perdana

POTENSI: Pengrajin batik di Desa Pilang saat mengikuti festival batik baru-baru ini.

POTENSI: Pengrajin batik di Desa Pilang saat mengikuti festival batik baru-baru ini. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

SRAGEN – Jembatan Bejingan di Desa Pilang, Kecamatan Masaran kondisinya seolah terabaikan. Sudah sekitar empat tahun jembatan tersebut belum tersentuh perbaikan. Akibatnya karena kerusakan infrastruktur tersebut mengganggu bisnis batik yang jadi andalan desa tersebut.

Kepala Desa (Kades) Pilang, Sukisno menyampaikan, jembatan yang menjadi salah satu akses untuk mempermudah usaha batik tak segera dipikirkan pemerintah daerah. Dia menyampaikan kerusakan sudah terjadi sejak 2014 lalu.

Dengan kerusakan jembatan itu, mengganggu bisnis  batik di Desa Pilang. Pengusaha batik yang selama ini punya rekanan dari luar kota, enggan masuk Pilang. Dengan alasan menolak mengambil jalan memutar. ”Misalnya ada rekan bisnis dari Surabaya, nggak bersedia masuk dan akhirnya pilih langsung ketemu di Solo,” tandasnya.

Pihaknya meminta pemerintah memikirkan kelangsungan bisnis batik di Pilang. Dia menyampaikan kerugian akibat tidak berfungsinya jembatan Bejingan secara maksimal mencapai sekitar 15 persen. ”Pelanggan yang berkurang mencapai 5 persen hingga 15 persen, jika mau bertemu pun di Solo. Dan akhirnya menambah biaya akomodasi,” terangnya.

Sukisno menyampaikan ada 96 orang yang menjalani bisnis batik. Dia menjelaskan tiap pengusaha tersebut rata-rata memiliki dua orang hingga enam orang pekerja dari Desa Pilang dan sekitarnya. Menurutnya roda perekonomian cukup besar, bahkan mencapai miliaran rupiah.

”Padahal di desa Pilang sangat bergantung pada industri batik. Kalau bukan orang malas, tak ada pengangguran di Pilang, dari setiap pengusaha setiap hari seakan-akan membutuhkan tenaga,” ujarnya.

Dia menyampaikan pengusaha batik banyak yang berusia muda. Dengan kreatifitas anak muda, tetap eksis sampai saat ini. Peran pemerintah saat ini sekadar membantu dalam hal promosi. ”Selama ini baru sekadar administrasi dan promosi lewat media sosial, belum menyentuh bantuan permodalan,” jelasnya.  

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen, Suwardi saat mengunjungi desa Pilang Sabtu (6/10) lalu menyampaikan, tahun ini kali pertama mencoba membuat festival batik di Desa Pilang. Pihaknya berharap dengan mendukung festival dapat mendorong ekonomi masyarakat. ”Tentunya festival ini akan memutar roda perekonomian lebih baik,” terangnya. (din/edy)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia