Jumat, 19 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Sragen

48 Formasi CPNS Sragen Sepi Peminat

Selasa, 09 Oct 2018 21:50 | editor : Perdana

48 Formasi CPNS Sragen Sepi Peminat

SRAGEN – Sepekan menjelang penutupan pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), ternyata masih puluhan formasi yang belum diminati. Setidaknya ada 48 formasi hingga Senin (8/10) yang tidak ada peminatnya.

Berdasar catatan Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Sragen hingga Senin (8/10) pukul 08.00 WIB masih ada 48 formasi yang belum diisi pendaftar. Formasi tersebut meliputi formasi di bidang kesehatan dan pendidikan.

Kepala BKPP Sragen Sarwaka menjelaskan, ke-48 formasi tersebut diantaranya 19 dokter spesialis untuk RSUD Gemolong dan Soehadi Prijonegoro. ”Ada 9 dokter ahli pratama untuk kedua RSUD dan juga sejumlah Puskesmas. Seperti UPTD Puskesmas Sumberlawang, Tanon 1, Sambirejo, Jenar dan Gondang,” terang Sarwaka disela acara pelantikan pengambilan sumpah pengawas dan kepala sekolah di Pendopo Sumonegoro Sragen.

Selain itu ada empat tenaga kesehatan kategori umum untuk sejumlah UPTD Puskesmas dengan jenis job desk sanitarian terampil. Termasuk satu tenaga kesehatan untuk honorer. Kemudian ada 11 guru kelas di sejumlah sekolah dasar yang letaknya di pelosok desa.

”Guru kelas di SDN Gilirejo IV Kecamatan Miri, SDN Gabugan II, Tanon, Maupun SDN Hadiluweh II Sumberlawang, dan SDN Glonggong I Gondang. Ini juga sama sekali belum ada peminat,”  ungkapnya.

Sarwaka juga menyebut empat formasi khusus disabilitas, di antaranya dua orang arsip terampil, satu pengelola kepegawaian dan dokter ahli pratama juga masih kosong. Formasi untuk warga berkebutuhan khusus ini dengan kategori cacat ringan. ”Khusus untuk kecacatan tangan atau kaki, yang bisa bekerja aktivitas seperti kita,” terangnya.

Sarwaka mengatakan sampai kini baru 1.240 pendaftar untuk 505 kuota CPNS Kabupaten Sragen. Pihaknya mengimbau masyarakat yang berminat segera mendaftar di tujuh hari tersisa ini.

Menurutnya permasalahan minimnya pendaftar CPNS, karena selain sulitnya mengakses laman-laman pendaftaran BKN, calon peserta juga saling menunggu waktu akhir pendaftaran. ”Kalau jauhnya tempat bekerja, karena di desa itu tak masalah. Karena semua dapat dijangkau dengan akses yang mudah, infrastruktur juga sudah bisa dijangkau dengan kendaraan,” bebernya.

Sementara itu, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati tak heran untuk formasi CPNS dokter spesialis kurang diminati. Menurut bupati, untuk menempuh pendidikan dokter spesialis waktunya panjang dan biayanya tak murah. ”Memang sulit untuk mendapatkan dokter spesialis umur 35 tahun. Biasanya kalau ada anaknya orang kaya, sekolahnya lanjut,” jelas bupati yang juga berprofesi sebagai dokter ini.

Selain itu batas usia maksimal melamar CPNS dipatok 35 tahun. Padahal menurut Yuni, rata-rata lulus dokter spesialis usianya sudah 40 tahun. Pihaknya tak yakin kuota CPNS untuk dokter spesialis itu dapat terpenuhi. ”Lulusan dokter spesialis usia kurang dari 35 tahun jarang sekali. Rata-rata rampung spesialis sudah berusia 40 tahun lebih,” jelasnya.

Bupati juga menyayangkan minimnya pendaftar CPNS. Padahal pihaknya menargetkan 505 formasi CPNS bisa diperebutkan 10 ribu pelamar.  ”Ini kesempatan untuk masyarakat mencari pekerjaan. Tapi kog yang daftar hanya sedikit. Padahal seleksi perangkat desa saja lulusan S2 ikut daftar,” ungkapnya. (din/edy)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia