Sabtu, 20 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Dinas Perdagangan dan UKM Gencar Ciptakan Wirausaha Baru

Rabu, 10 Oct 2018 14:19 | editor : Perdana

TERUS DIKEMBANGKAN: Sejumlah warga menyelesaikan proses pembuatan batik di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten sebagai produk unggulan UMKM, Selasa (9/10).

TERUS DIKEMBANGKAN: Sejumlah warga menyelesaikan proses pembuatan batik di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten sebagai produk unggulan UMKM, Selasa (9/10). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Tergugah Ciptakan Wirausaha Baru

KLATEN – Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM (Disdagkop dan UKM) Klaten mencatat, saat ini ada sekitar 54 ribu pelaku UKM dengan kondisi beragam. Mulai dari usaha yang memiliki omzet di bawah Rp 200 juta hingga Rp 10 miliar. Tahun ini Disdagkop dan UKM gencar menciptakan wirausaha baru.

”Kami mengadakan berbagai pelatihan ketrampilan untuk mendorong munculnya wirausaha baru. Pelatihannya menyasar desa-desa yang masuk zona merah agar mereka bisa sejahtera. Harapannya dengan usaha yang ditekuni bisa berkembang dan maju,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Koperasi dan UKM Disdagkop Klaten, Wahyu Hariadi kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (9/10).

Saat ini Pemkab Klaten sudah mengelompokan usaha dalam 11 klaster. Meliputi batik, lurik konveksi, dan keramik. Termasuk mebel, logam, handicraft, makanan olahan, lereng Merapi, desa wisata, hingga minapolitan.

”Tahun ini kami sudah lakukan beberapa pelatihan wirausaha baru yakni makanan olahan batik dan boga. Kami bentuk dalam kelompok-kelompok mulai dari pelatihan pengolahannya hingga pengemasannya. Kita ajarkan pula untuk pemasarannya,” beber Wahyu.

Wahyu mengatakan, beberapa bulan lalu, bertempat di Balai Desa Gaden, Kecamatan Trucuk, diadakan pelatihan makanan olahan untuk kewirausahaan untuk ibu-ibu setempat. Selama tiga hari mereka diajarkan membuat kripik tempe, pisang, ketela dengan berbagai rasa. Pelatihan itu dilakukan agar bisa menambah penghasilan tambahan bagi masyarakat.

”Sebelumnya kami juga melakukan pembinaan terhadap kompetensi perajin batik dari Desa Jarum dan Desa Kebon, Kecamatan Bayat. Terdapat 50 perajin yang mengikuti pelatihan dan sertifikasi selama lima hari. Diadakan sebuah lembaga sertifikasi dari Semarang,” urainya.

Namun tidak seluruh UKM yang terdata saat ini bisa berkembang dan maju. Masih diperlukan pendampingan dan pembinaan terlebih dahulu hingga akhirnya mampu menghasilkan produk yang berkualitas. Guna mewujudkannya bakal dilakukan pemetaan pada tahun mendatang guna memudahkan dalam mengambil kebijakan.

”Nantinya akan kami petakan usaha mana yang punya daya saing berapa persen. Apakah pasarnya lokal, regional atau ekspor. Berapa produksinya, tenaga kerja dan sertifikasinya. Bila sudah dipetakan akan lebih mudah dalam melakukan pembinaan karena diketahui apa yang dibutuhkan,” imbuh Wahyu. (ren/fer

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia