Senin, 17 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu Mejerit

10 Oktober 2018, 14: 49: 33 WIB | editor : Perdana

KEMBANG KEMPIS: Produsen tahu  Dusun Purwogondo, Kartasura.

KEMBANG KEMPIS: Produsen tahu  Dusun Purwogondo, Kartasura. (NUR AZIZAH/RADAR SOLO)

SUKOHARJO  – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat berimbas pada harga sejumlah kebutuhan bahan pokok. Termasuk kedelai yang masih impor. Kondisi ini memaksa sejumlah produsen tahu dan tempe berimprofisasi. Agar tidak gulung tikar.

Widi, 51, produsen tahu asal Dusun Purwogondo, Kantasura, Sukoharjo mengaku kenaikan kedelai sekitar Rp 300 per kg. Dari Rp 7.000 naik jadi Rp 7.300 per kg. Menyiasati agar tidak merugi, dia mengurangi takaran tahu yang dijual ke konsumen.

”Biasanya sebungkus isinya 10 potong tahu. Sekarang saya kurangi hanya 9 potong saja. Harganya Rp 3.000 per bungkus,” beber Widi kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (9/10).

Tiap hari, Widi menghabiskan bahan baku sekitar 1 kuintal kedelai. Kendati harga kedelai terus naik, dia tak berani menjual dengan harga mahal. Pilih memotong hasil keuntungannya daripada menaikkan harga jual. ”Daripada harus kehilangan konsumen, kan repot. Pembelinya paling banyak dari Boyolali,” timpalnya.

Pamilih, 39, penjual tahu di Pasar Kartasura mengaku tidak ada kenaikan harga tahu. Kendati bahan baku kedelai terus merangkak naik. ”Kalau harga tahu naik, konsumen yang protes dan batal beli. Untungnya ya mepet sekali,” bebernya.

Pamilih menjual dua jenis tahu. Yakni tahu goreng dan tahu putih mentah. Sehari dia bisa menjual sekitar 15 kotak tahu putih. Harganya Rp 2.500 per bungkus isi 10 potong. ”Kadang kalau dari produsen naik, tahu saya kurangi dari 10 jadi 9 potong. Tapi harga untuk dijual ke konsumen tetap sama,” ujarnya. (mg9/fer)

(rs/yan/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia