Sabtu, 20 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Features

Luluk Kartika, Penggagas Gerakan Antivandalism di Gunung

Jumat, 12 Oct 2018 10:29 | editor : Perdana

Luluk Kartika, Penggagas Gerakan Antivandalism di Gunung

Maraknya aksi vandalisme di gunung mematik keprihatinan Luluk Kartika, Duta Wisata Sragen 2015. Digagaslah gerakan antivandalism lewat Clean Art Vandalism On The Mountain (CAV OT Mountain). Membersihkan coret-coretan, bersihkan sampah, sampai penghijauan di puncak gunung.

AYU CANDRA PUSPITA, Sragen

Sesosok wanita cantik berkacamata duduk di sudut sebuah warung makan di tengah kota Sragen, Minggu (7/10) malam. Sedang sibuk memilih menu yang akan disantap. Saat melihat kedatangan wartawan Koran ini, seketika senyumnya mengembang. Melambaikan lalu menyodorkan tangan untuk berjabat.

”Hai, apa kabar? Silakan duduk mbak. Sekalian pesan makan atau minumnya,” kata wanita itu kepada Jawa Pos Radar Solo.

Ya, perempuan ini tak lain Luluk Kartika, penggagas Clean Art Vandalism On The Mountain. CAV OT Mountain sendiri aktif di bidang sosial, khususnya pelestarian alam pegunungan. Fokus pada pembersihan coretan yang ada di puncak. Baik di pos pendakian, bebatuan, pepohonan, dan sebagainya.

Luluk sejatinya baru menyukai aktivitas mendaki pada 2011. Tepatnya di Gunung Lawu. Pemandangan di puncak yang bersih dan asri membuatnya ketagihan. ”Beberapa tahun kemudian pas semester 3 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta), saya coba naik lagi ke Lawu. Kaget saya. Tempatnya kotor, banyak sampah dan coretan,” keluhnya.

Dari sini, muncul ide membuat gerakan menjaga kelestarian lingkungan di puncak gunung.Tapi perempuan kelahiran Sragen, 10 Agustus 1993 ini terbentur jadwal kuliah. Serta belum terlalu pede mewujudkannya karena merasa masih junior di kalangan pendaki.

Selepas wisuda 2015, Luluk terpilih jadi Duta Wisata Sragen. Dari sini relasinya bertambah. Ambisi mewujudkan gerakan peduli lingkungan mulai menggebu. Anak kedua pasangan Saparto-Nurwati ini mulai mencari link sekaligus donatur yang bersedia membantunya.

Gayung bersambut, banyak relasi yang tertarik dan mendukung. Hingga akhirnya terbentuk gerakan CAV OT Mountain pada 31 Desember 2015. Anggotanya puluhan orang, berasal dari berbagai kota. Aktivitas utamanya membersihkan coretan, sampah, dan penghijauan dengan penanaman bibit pohon.

Bukan perkara mudah membersihkan coretan yang ada di bebatuan, pos pendakian, pepohonan, dan sebagainya. Sebab Luluk dan anggota CAV OT Mountain membutuhkan peralatan khusus. Di antaranya tiner, remover, scrap, lap, dan alat penyemprot. Plus kantong plastik besar dan bibit tanaman. Semua itu wajib ada di tas ransel. Bersama dengan bekal lain untuk pendakian.

”Hampir semua gunung di Jawa Tengah sudah saya kunjungi. Ke Rinjani juga pernah. Kondisinya ada yang bersih, ada juga yang kotor. Banyak coretannya. Itu tugas saya dan teman-teman untuk membersihkan. Kalau ada sampah dibawa turun. Kalau ada yang lahannya gundul ya ditanami pohon,” ujar pegawai BPR BKK Karangmalang ini.

Sekali mendaki, Luluk mengaku butuh biaya jutaan rupiah. Selain buat bekal di perjalanan, uang tersebut untuk membeli peralatan pembersih coretan. Beruntung, warga Dukuh Mojo RT 08 RW 03 Desa Sigit, Kecamatan Tangen, Sragen ini terbantu pekerjaan sampingan membuat desain sketsa.

”Kebetulan saya hobi dan rutin olahraga. Ya jogging, renang, dan basket. Ini yang membantu fisik saya selalu prima saat mendaki gunung,” beber wanita yang pernah jadi guru di SDN 4 Ketelan, Tangen tersebut.

Luluk berharap gerakan yang dia rintis ini bisa menular ke generasi muda sekarang. Minimal saat mendaki mereka sadar untuk tidak membikin kotor lingkungan pengunungan. ”Jadi tak asal foto-foto biar eksis saja. Pendaki ya harus pedulu juga dengan alam,” timpalnya.

Paling gres, Luluk dkk sedang aktif menggalang donasi untuk korban bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Juga rutin menggelar bakti sosial ke berbagai panti asuhan. ”Saya tidak akan pernah lelah untuk menyadarkan manusia. Bahwa yang mereka hargai itu bukan hanya sesama manusia. Alam dan seisinya juga butuh dihargai,” ucapnya. (*/fer)

(rs/fer/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia