Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Sepak Bola

Kapan PSIK Berdiri? 1934, 1937, 1946, 1959, atau 1961?

12 Oktober 2018, 14: 23: 36 WIB | editor : Perdana

Kapan PSIK Berdiri? 1934, 1937, 1946, 1959, atau 1961?

“TERIMAKASIH mas @nikkoauglandy atas tulisannya,” sebuah kalimat yang diberikan oleh Setyawan Utomo Hadi di Instagram, tepat pada 10 Oktober lalu.

Pria yang saya kenal sebagai anggota dari Klaten YoBen, yang merupakan official marchendise yang fokus untuk mempromosikan Klaten. Tulisan yang dia maksud ternyata tulisan lama saya tentang sejarah berdirinya PSIK, sebuah bond tua asal Klaten yang sempat saya tulis di blogspot usang saya yang sudah lama tak pernah dibuka .

NIKKO AUGLANDY, Radar Solo

Ada perbedaan persepsi saya dengan beberapa tulisan yang muncul. Salah satunya dengan tanggal 10 Oktober 1946 sebagai lahirnya PSIK, bahkan tanggal tersebut muncul di logo baru PSIK yang sudah melekat di tim Liga 3 hingga Piala Soeratin tim ini.

Rujukan sebagai wartawan untuk membahas catatan sejarah, salah satunya adalah membaca dari literatur koran lama. Dan apa yang saya dapatkan memperjelaskan bahwa PSIK berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dalam koran Olahraga terbitan Maret 1937, tertera bahwa PSIK jadi bagian baru PSSI, dengan salah satu pimpinannya bernama Soenardi. Selain PSIK, tim diluar pendiri PSSI yang juga ikut bergabung antara lain adalah Persim Mataram, Ksatrya Sragen, Rens Bojonegoro, PSKS Kedoe Selatan, PESISS Salatiga, hingga PSIW Wonosobo

Namun informasi lebih lama saya dapat dari sejarawan sepakbola Novan Herfiyana. Penulis buku Persis Undercover tersebut  sempat mengunggah tweet pada 19 April 2016, dengan “#AnggotaPSSI1934”

Ada beberapa tulisan berseri yang dia tulis, tentang siapa saja tim-tim anggota lama dan baru organisasi sepak bola pribumi (PSSI) di periode tahun tersebut. Salah satunya tertulis “#AnggotaPSSI1934 (Jateng):Persis, PSIM, PPSM, PSIS, PSIA (Salatiga) yg saat itu ke PSIA (Ambarawa). Akan Masuk: Persik (Klaten)” Yang tak lama dirinya memperjelas informasi dengan tulisan baru

“Kelak, PSIK (Klaten) Berdiri 19 Desember 1959 dan disahkan sebagai anggota PSSI dalam kongres PSSI 1961. #AnggotaPSSI1934” sambungnya

Untuk melengkapi catatan itu, koran sezaman lainnya akhirnya saya dapatkan. Panjebar Semangat, koran terbitan Solo termasuk yang rutin membahas PSIK di era 1930an.

Panjebar Semangat terbitan Agustus 1938, menuliskan PSIK bertanding di kompetisi PSSI dan kalah saat melawan PSM Madioen (3-2). Masih di koran yang sama untuk terbitan Juni 1940, dituliskan PSIK masuk di kompetisi PSSI 1940/1941 di Grup IV, bersama tim dari Solo (Persis), Semarang (PSIS) dan Salatiga.  Agustus 1940, tertulis PSIK kalah dua kali dari Solo (4-1) dan Semarang (4-0).

Koran Panjebar Semangat terbitan 16 September 1939 juga membahas sebuah laga uji coba PSIK di Semarang. Disitu tercatat PSIK sukses menang atas PSIS Semarang dengan skor 3-2.

Sayang hasil bagus ini gagal terulang empat bulan kemudian. Masih di media yang sama, tim PSIK kalah telak melawan tuan rumah PSIM Jogja 7-1, tepatnya di bulan Januari 1940. Beberapa catatan ini menjelaskan di tahun 1930an pun PSIK sudah ikut kompetisi PSSI, dan menjalani laga uji coba tandang maupun kandang.

Kejayaan PSIK semakin terasa saat membaca sebuah buku karangan Arief Natakusumah, berjudul “Drama itu bernama Sepakbola”. Tepat di bab “Drama 16: Derby Ala Jawa” di halaman ke-82, terdapat sebuah tulisan menarik soal pemain bintang di tim PSIK.

“Saat melawat ke Solo, Persija diperkuat oleh Mahmul, kiper gemuk tapi lengket tangkapannya, lalu bek cekatan ruslan dan trio tangguh Sanger, Abidin dan Teck Eng serta kanan luar Iskandar. Lewat adil mereka, Persis terpaksa main dengan hasil seri 2-2. Mahmul, Ruslan, Abidin dan Pattiwael pada zaman revolusi hijrah ke Klaten. Namun mereka tidak bergabung dengan Persis, melainkan ke PSIK Klaten lantaran ditawari bekerja di pabrik sepatu Gayamprit. Bolah jadi kepindahan ini seperti sebuah kisah transfer pemain tempoe doeloe. Sebelum hijrah ke Klaten, Mahmul, Ruslan dan Abidin adalah Anggota tim Sepakbola Bata Jakarta. Saat itu perusahaan sepatu milik Belanda ini boyongan sambil membawa peralatan pabrik ke Jawa Tengah“

Cukup menarik pastinya melihat kekuatan PSIK di zaman dahulu, yang sempat diisi bintang Persija hingga eks pemain Piala Dunia.

Kini sejarah panjang berdirinya PSIK semakin bercabang. Semoga dengan momen perayaan ultah  ini, PSIK bisa benar-benar bangkit seperti di masa jayanya. Ingatlah, Klaten juga punya kebangaan, dialah PSIK. Inilah Klaten, bukan Jogja, bukan Solo.(*/nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia