Sabtu, 17 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features

Mengenal Heru Eko Febrianto, Kreator Action Figure Beromzet Jutaan

Sabtu, 13 Oct 2018 09:45 | editor : Perdana

KREATIF: Heru Eko Febrianto membuat action figure di galerinya, Kamis (11/10). 

KREATIF: Heru Eko Febrianto membuat action figure di galerinya, Kamis (11/10).  (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Tidak ada yang menyangka Heru Eko Febrianto yang semula pengusaha clothing dan desain, kini punya penghasilan jutaan rupiah per bulan. Setelah banting setir ke usaha pembuatan action figure. Hasil karyanya bahkan sudah sampai ke luar negeri. 

ERWANDA SELVIANA, Solo

SEBUAH gang kecil di Kampung Baron Cilik, Bumi, Kecamatan Laweyan, Solo, Kamis (11/10) terlihat lenggang. Di sisi kanan terdapat rumah sederhana berpintu teralis besi. Di atas pintu terdapat papan dari kayu bertuliskan MKRM.

Saat melongok ke dalam, ada sesosok pria paro baya mengenakan kaos warna hitam. Duduk di sebuah kursi di pojok ruangan. Ia tengah asik merangkai sebuah mainan berwujud tokoh-tokoh superhero.

Ya, dialah Heru Eko Febrianto, kreator action figure. Awalnya pria kelahiran Solo, 15 Februari 1985 ini mengawali usaha clothing dan desain grafis pada 2007. Selalu berpindah-pindah dari kontrakan satu ke kontrakan lainnya. Lalu terbesit ide membuat brand Monkey Room (MKRM).

”Kenapa pakai nama itu? Ya karena dulu teman-teman juluki saya kethek (monyet) karena sering pindah tempat. Lalu saya buat brand Monkey Room itu,” kata Febri kepada Jawa Pos Radar Solo.

Di samping usaha clothing, bapak satu anak ini juga doyan mengoleksi action figure. Saking kesengsemnya, action figure sempat jadi mahar saat dia menikahi istri tercintanya, Umi Wulandari. ”Saya beri mahar dua pasang action figure. Sepasang kostumnya saya ganti kemeja. Sepasang lagi kostumnya pakai blangkon dan busana adat Jawa,” kenangnya.

Sayangnya tidak banyak koleksi action figure yang dimiliki Febri. Karena terbentur harganya yang selangit. Tapi, dia tak kehabisan akal. Memberanikan diri buat action figure sendiri.

Lagi-lagi karena terbentur biaya, action figure yang dibuatnya masih mengandalkan barang-barang bekas. Contoh misal korek api gas, garpu plastik, jepitan baju, kartu perdana, headset, dan onderdil motor bekas.

”Menurut orang, kemampuan di bidang seni itu dari sekolah dan bakat. Tapi menurut saya tidak. Semua ya dari kebiasaan. Karena dari kebiasaan, orang jadi suka dan bisa. Jika kita mengerjakan sesuatu berulang-ulang, lama-kelamaan pasti akan hafal,” tandas pria 33 tahun ini.

Tahu Febri jago bikin action figure, teman-temannya mulai banyak yang meminta bantuan untuk custome mainan. Ada juga yang sekadar mereparasi action figure yang rusak. Dari mulut ke mulut, akhirnya mulai banyak pesanan yang mengalir.

Nah, mulai 2015, Febri mulai menekuni bisnis action figure. Dia mulai meningkatkan kualitas hasil karyanya. Bahan dasar yang dipakai tak sembarangan. Bukan lagi barang-barang bekas. Dipilihlah bahan yang sesuai standar pembuatan action figure.

”Saya mulai pakai epoclay sebagai bahan utama. Banyak tahapannya. Pertama gambar pola dulu. Lalu diangin-anginkan. Setelah agak kering, baru diukir sesuai pola itu,” imbuh Febri.

Setelah jadi bentuk action figure, proses berlanjut ke pewarnaan. Menggunakan cat akrilik dan semprot. Terkait detail dan karakter yang dibuat, disesuaikan permintaan konsumen. ”Tak jarang saya cari referensi dari foto di internet. Saya biasa bikin karakter Spiderman, Hulk, dan superhero lainnya,” bebernya.

Setelah jadi, action figure dibuatkan boks khusus. Terbuat dari busa yang dibentuk sesuai karakter. Demi keamanan saat pengiriman ke konsumen.

Terkait harga, Febri membandrol antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tergantung ukuran, detail, dan tingkat kerumitannya. Waktu pengerjaan satu buah action figure butuh waktu sekitar sepekan. ”Ukurannya mayoritas 1:6 dan 1:12,” ujarnya.

Peminat action figure karya Febri tak hanya datang dari Kota Solo dan sekitarnya. Namun juga dari kota-kota lain di Indonesia. Bahkan pemesannya ada yang berasal dari Malaysia dan Singapura.

”Ada teman saya seorang fotografer dan kolektor action figure dari Bali. Sering pesan action figure lalu dibawa ke Miami, Amerika Serikat. Di sana action figure difoto di sejumlah tempat menarik,” papar Febri.

Selain bikin action figure, Febri juga masih menerima jasa reparasi. Biayanya nyaris sama dengan membuat dari awal. ”Saya juga membuat action figure real yang harganya sebuah bisa sampai Rp 7 jutaan,” ucapnya.

Sembari bikin action figure, bisnis clothing dan desain grafisnya tetap berjalan. Beruntung, ada rekannya, Dinar Surya Prayoga yang ikut membantu. ”MKRM juga melayani laundry sepatu, second brand, t-shirt, merch, design, craft, dan desain interior. (*/fer/bun)

(rs/fer/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia