Sabtu, 17 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Korupsi, Kades di Klaten Resmi Jadi DPO Kejari

Selasa, 16 Oct 2018 09:30 | editor : Fery Ardy Susanto

Kajari Klaten, Fery Mupahir

Kajari Klaten, Fery Mupahir (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN - Kepala Desa Jotangan, Kecamatan Bayat, Sriyono masuk daftar pencarian orang (DPO) Kejaksaan Negeri (Kejari) Klaten. Diduga korupsi dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Rp 400 juta. Sriyono diketahui menghilang dan tidak lagi ngantor berbulan-bulan.

Kepala Kejari (Kajari) Klaten, Fery Mupahir menjelaskan, pihaknya sudah menetapkan Sriyono sebagai tersangka. Kejari juga sudah bekerja sama dengan jajaran kepolisian untuk mencari keberadaan tersangka.

”Sedang kami gali informasi keberadaan Sriyono dari anaknya yang kuliah di Jogja,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (15/10).

Kejari sudah berupaya melacak keberadaan tersangka di rumahnya. Namun upaya ini belum membuahkan hasil.

”Kami juga meminta bantuan Polres Klaten untuk mencari tersangka. Saya berharap Kepada Desa Jotangan bisa proaktif untuk menghadapi pemeriksaan penyidikan. Nanti kami juga akan menerapkan prosedur hukum yang berlaku kepada yang bersangkutan,” urai Fery.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Intelejen, Kejari Klaten, Masruri Abdul Aziz menambahkan, selama penyelidikan tersangka Sriyono sudah dipanggil tiga kali. Tetapi selama pemanggilan tersebut, tidak pernah hadir. Pihaknya akan terus mencari informasi keberadaan tersangka.

”Kita masih melakukan pengecekan juga di beberapa tempat. Yang katanya anaknya kuliah di Jogja. Kami mau tracking, Jogjanya di mana,” beber Masruri.

Kades Jotangan, Sriyono sendiri bak hilang ditelan bumi. Tak lagi menampakkan batang hidungnya  di rumah sejak Mei. Terkait dugaan kasus penyelewengan APBDes, meliputi program yang didana dana desa (DD), alokasi dana desa (ADD), hingga bantuan keuangan dari Pemkab Klaten dan Pemprov Jateng.

”Mengenai waktu yang dibutuhkan untuk penyidikan, tidak bisa ditentukan. Tapi kami terus berupaya mencari keberadaan Sriyono dulu,” ujar Masruri.

Kaburnya Sriyono berdampak pada seluruh administrasi keuangan Desa Jotangan. Dana bantuan untuk desa tersebut tidak kunjung bisa dicairkan. Mulai dari bantuan keuangan dari pemerintah pusat dan pemkab, hingga gaji perangkat desa. Saat ini status Sriyono sudah diberhentikan sejak September oleh Pemkab Klaten.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia