Senin, 19 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features

Salim Ahmadi, Dari Bisnis Clothing Banting Stir ke Bisnis Interior

Jumat, 19 Oct 2018 08:15 | editor : Perdana

TAK BOSAN: Salim Ahmadi menikmati bergelut dengan barang-barang lawas.

TAK BOSAN: Salim Ahmadi menikmati bergelut dengan barang-barang lawas. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Bagus tidaknya tampilan rumah sangat dipengaruhi oleh interior rumah tersebut. Karena itu butuh ide-ide kreatif agar dilirik konsumen. Salim Ahmadi menyadari itu dengan mengenalkan nuansa vintage dalam memoles rumah. Bahkan interior yang mereka gunakan benar-benar barang lawas yang direstorasi ulang. Mau tahu?

A CHRISTIAN, Solo

Perkakas ruang tamu bernuansa lawas tetata rapi di galeri milik Salim Ahmadi di Jalan Titoningrat Kampung Jagalan, Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan, Solo. Koran ini pun berbincang panjang lebar soal desain interior yang ditekuni bapak tiga anak ini. 

Salim mengatakan kalau dirinya memang memiliki kesukaan dengan barang-barang vintage. Namun sebelum terjun ke bisnis interior, dia sempat menenuni bisnis clothing yang mengarah pada fashion 70-80-an pada 2009 silam. Karena merupakan pebisnis pakaian, dirinya sering mengadakan expo dan pameran guna memasarkan produknya.

“Pada saat expo sering menggunakan properti yang mendukung pameran clothing saya, yang tidak lain merupakan barang-barang vintage. Propertinya saya tidak sewa namun saya kumpulkan, ada juga yang beli. Karena tidak pernah saya jual lama-lama menumpuk di rumah,” ujar warga Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan ini.

Karena barang yang sudah menumpuk, pria yang juga suka menata ruangan ini iseng menata interior kemudian di-upload pada akun sosial media (sosmed) pribadinya. Tanpa diduga banyak yang mengomentari unggahan propertinya. Bahkan, beberapa di antaranya memiliki keinginan untuk membeli properti tersebut.

Dari situlah, pada 2016 Salim memilih banting stir menjadi pengusaha interior. Guna menunjang bisnisnya, di tahun-tahun awal dirinya sendiri hunting ke desa-desa mencari properti-properti lawas dari rumah-rumah warga yang akan dijual. Setelah tiba di Solo, properti itu lalu direstorasi.

“Kalau ada yang patah kakinya, diganti dengan bentuk yang sama. Kalau catnya terkelupas dicat ulang. Kalau sofanya ada yang rusak atau robek kita ganti kulitnya dengan yang baru. Setelah itu dijual lagi. Tapi sekarang saya sudah tidak hunting lagi, sudah ada yang datang jual ke saya,” paparnya.

Guna merestorasi produknya, lanjut Salim, dirinya dibantu dengan lima orang pegawai. Sedikitnya dibutuhkan waktu satu hingga dua pekan agar barang tersebut bisa dilepas ke pasaran. Karena menjual barang bekas, tak jarang barang yang didapatnya tidak komplit. “Misal cuma dapat meja satu sama kursi satu, atau malah cuma dapat kursi satu,” katanya.

Harga jualnya pun sesuai dengan kondisi barang. Kalau barang tidak komplit harganya bisa Rp 850 ribu sampai 1,5 juta. Tapi kalau satu set meja kursi komplit bisa Rp 3,5 juta sampai Rp 5 juta.

Bertambahnya tahun, pria ini tidak hanya menjual barang, namun juga menjual jasa perancangan desain interior. Baik itu rumah, toko hingga restoran yang ingin dikonsep era 80-an. Untuk jasa seting, dia mematok harga sendiri. Hingga saat ini sebulan laba bersih Rp 50 juta bisa dikantonginya tiap bulan. “Tiap bulan bisa menjual 5 sampai 10 set interior,” katanya.

Soal pasar, Salim mengaku barangnya ini banyak dibeli dari konsumen yang berasal dari Jakarta, Bandung, Jawa Timur, hingga Bali. Apakah memiliki reseller? Salim mengaku belum. “Sebenarnya banyak yang menawarkan diri sebagai reseller, tapi karena untuk memenuhi pesanan sendiri saya saja masih belum maksimal, masih belum berani kalau menunjuk reseller,” katanya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia