Sabtu, 17 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Dikeluhkan Konsumen, Feeder Dilengkapi GPS

Jumat, 19 Oct 2018 16:15 | editor : Perdana

LEBIH MODERN: Pelayanan transportasi publik di Kota Bengawan terus dibenahi.

LEBIH MODERN: Pelayanan transportasi publik di Kota Bengawan terus dibenahi.

SOLO - Keberadaan angkutan feeder sebagai peremajaan konsep angkutan kota terus dimatangkan Pemkot Solo. Kali ini, 30 tambahan armada baru lengkap dengan global positioning system (GPS) pun siap dioperasikan guna menjawab keluhan masyarakat.

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surakarta Taufik Muhammad mengatakan, sejak dioperasikan akhir 2016 lalu, angkutan feeder telah berubah menjadi transportasi yang lebih baik. Hal ini sebagai jawaban perubahan atas tuntutan zaman akan moda transportasi perkotaan yang lebih nyaman dan efisien dari sebelumnya. Sayangnya, sejumlah catatan miring soal angkutan biru itu cukup dikeluhkan para pengguna jasa mulai dari ketepatan waktu hingga masalah operasional seperti disewakan dan lainnya. 

“Keluhan masyarakat masih sama soal ngetem. SOP belum berjalan dengan tepat, dan laporan melihat feeder disewakan. Ini terus jadi bahan evaluasi kami ke depan,” jelas Taufik.

Menjawab hal itu, pihaknya melakukan terobosan baru. Ini dibuktikan dengan kehadiran 30 armada baru yang dilengkapi dengan sistem GPS. Dengan demikian, posisi dan keberadaan armada feeder akan langsung bisa diketahui oleh pemerintah. Sehingga teguran pu  langsung bisa dilakukan pada pengemudi armada tersebut. 

“Sistem GPS ini jelas membantu pengemudi menemukan rute perjalanan. Sehingga saat ada perubahan rute angkutan di tengah pembangunan infrastruktur lalu lintas di Solo bisa diantisipasi dengan baik,” ujarnya.

Manfaat lainnya adalah aktivitas angkutan jenis ini akan terpantau jelas selama jam opreasional mereka. Jadi kalau ada angkutan ngetem terlalu lama atau keluar jalur bisa langsung ditegur petugas yang berwenang.

Pihaknya kini tinggal menyelesaikan persyaratan administratif soal 30 feeder baru itu akan dioperasikan di jalur mana. Sembari itu, secara berkala 71 armada feeder yang telah beroperasi di jalanan akan mulai dipasangi GPS. Tujuannya sama, agar pelayanan pada masyarakat bisa terus ditingkatkan. 

“Kami tekankan waktu tunggu feeder di setiap jarak pelayanan antar kendaraan hanya 10 menit dan di waktu padat hanya 5 menit. Jam puncak kepadatan dibagi menjadi tiga seperti, di pagi hari saat siswa berangkat sekolah pukul 06.00-08.00 WIB. Sedangkan siang hari pukul 13.00-15.00 WIB dan sore hari pukul 16.00-18.00 WIB. Soal kecepatan maksimumnya ya hanya 40 kilometer per jam,” jelas Taufiq. 

Kendati demikian, pihaknya tak menampik bahwa persaingan transportasi makin tinggi setiap tahunnya. Apalagi pasca dilegalkannya angkutan online beberapa waktu lalu. Hal ini membuat pengemudi sering mengeluh hingga akhirnya SOP yang disepakati masih sering dilanggar oleh. Karena itu, pembaharuan teknologi di angkutan ini terus diperbarui untuk menarik kembali minat masyarakat. 

“Makanya konsep utamanya seluruh angkotan kota mesti diremajakan dulu. Sambil menunggu konsep aglomerasi tercapai, kami akan terus memaksimalkan transportasi publik dalam kota lebih dulu,” ujar Taufik.

Di sisi lain, penilaian baik dan buruk masyarakat soal angkutan feeder terbelah. Disatu sisi, banyak yang meyayangkan armada sebagus itu kadang tak dioperasikan optimal. Di sisi lain, banyak yang beranggapan bahwa angkutan feeder merupakan  terobosan baru di ranah transportasi dalam kota yang meski diapresiasi meski masih belum sempurna hingga saat ini.

“Angkuta sekarang sudah pakai AC, jadi jauh lebih nyaman. Kapasitasnya pun hanya dibatasi maksimal hingga 12 penumpang saja sehingga fenomena saling desak tak lagi ditemui. Tapi juga kadang eman karena tarif angkutan feeder biru dan kuning sama, padahal kenyamanannya jauh beda,” harap salah seorang pelanggan angkot, Sri Mulyati, 43. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia