Senin, 19 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Minat Guru Menyusun PTK Masih Rendah

Jumat, 19 Oct 2018 16:38 | editor : Perdana

TATA KRAMA: Siswa Kelas 1 SD 15 Surakarta memberi salam kepada guru di sekolah tersebut.

TATA KRAMA: Siswa Kelas 1 SD 15 Surakarta memberi salam kepada guru di sekolah tersebut. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO – Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, karya ilmiah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi guru berperan untuk kenaikan pangkat. Namun mayoritas guru memilih tidak menyusun tersebut lantaran terkendala berbagai hal. Salah satunya, kekhawatiran tidak mampu menyelesaikan karya ilmiah tersebut dengan baik.

”Para guru ini merasa malas terlebih dulu karena sudah ada beban mengajar juga. Guru juga merasa penyusunan PTK ini ribet. Mereka merasa kurang sehat dan tidak ada waktu. Selain itu, mereka juga kurang memahami tentang komputerisasi. Kurang sarana dan prasarana tentang petunjuk menyusun PTK,” beber Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PPKn SMA dan SMK eks Karesidenan Surakarta, Sri Hastuti kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Sri Hastuti banyak menemui guru yang sudah mencoba menyusun PTK, namun terkadang kurang teliti dalam mengerjakan. Ini dikarenakan tak sedikit guru yang belum mengetahui cara menulis dan menyusun PTK. Alhasil, saat diajukan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), PTK tidak lolos.

”Oleh karena itu, banyak guru yang merasa takut, membuat mereka mengurungkan diri dan malas. Banyak guru yang sebenarnya sudah bisa menyusun PTK, hanya saja kurang sinkron dalam penulisan. Ini yang membuat PTK tersebut tidak lolos,” sambung guru SMKN 4 Surakarta tersebut.

Melihat fenomena tersebut, praktisi karya ilmiah dari kalangan guru berinisiatif menggelar Diklat Penyusunan PTK bertajuk Jurus Bijak dan Jitu Menulis Karya Ilmiah PTK, Sabtu (20/10) mendatang. Tujuannya, menumbuhkan semangat para guru menyusun PTK dan mengubah mindset bahwa penyusunan PTK tidak sulit.

”Mestinya, guru mewajibkan diri untuk menyusun PTK. Karena bukan hanya untuk kenaikan pangkat, tapi juga memenuhi keprofesionalan guru. Melalui diklat ini, peserta juga sekaligus menimba ilmu. Para praktisi karya ilmiah akan melatih para guru agar bisa terampil dan semangat dalam menyusun PTK,” sambung Sri Hastuti.

Sri Hastuti menambahkan diklat ini juga melaksanakan Program Keprofesian Berkelanjutan (PKB), terdiri dari pengembangan diri. Dilanjutkan dengan penyusunan PTK untuk memeroleh nilai publikasi ilmiah. Diharapkan dengan diklat ini guru mampu menyusun PTK dengan mudah dan semangat.

Sebanyak 400 guru semua mata pelajaran (mapel) dari jenjang TK sampai SMA maupun SMK ambil bagian dalam kegiatan ini. Menghadirkan guru SMKN 8 Surakarta, Wahyudi Taufan dan Pengawas SMA BP2MK Provinsi Jawa Tengah, Muhari sebagai pemateri praktisi karya ilmiah.

Diklat digelar dan dilaksanakan bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) AUB. Ketua Yayasan Karya Dharma Pancasila Surakarta, Anggoro Panji Nugroho mengungkapkan diklat ini merupakan hasil dari Memorandum of Understanding (MoU) antara yayasan dengan MGMP.

Salah satunya, adalah diklat penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian. Dalam hal ini, yang diminati dan dialami guru sendiri adalah PTK. Tujuannya, memperbaiki kinerja guru agar prestasi siswa meningkat.

”Peran kami membantu dan mengembangkan melestarikan karya nyata di bidang pendidikan. Membantu pemerintah Indonesia dalam usaha mencerdaskan bangsa, memberikan kesempatan untuk menikmati pendidikan yang baik. Agar dapat berjiwa mandiri dalam masyarakat,” tandasnya. (aya/nik)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia