Senin, 19 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Indonesia Belum Mampu Penuhi Kebutuhan Pasar Global Kayu Ringan

Sabtu, 20 Oct 2018 15:15 | editor : Perdana

POTENSIAL: Seroang pengrajin menyelesaikan pembuatan kerajinan souvenir berbahan dasar kayu sengon di Desa Nglebak, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jumat (19/10).

POTENSIAL: Seroang pengrajin menyelesaikan pembuatan kerajinan souvenir berbahan dasar kayu sengon di Desa Nglebak, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jumat (19/10). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Kesuburan alam Indonesia berpotensi besar mendukung pasar ekspor kayu ringan. Sayangnya, Indonesia hanya mampu memasok 3-4 juta kubik per tahun. Padahal kebutuhan pasar global untuk kayu ringan ini mencapai 50 juta kubik.

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, Arlinda menjelaskan, kayu ringan sangat diminati pasar luar negeri. Khususnya kayu sengon. Sayangnya Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Padahal proses penanaman sengon terbilang mudah. Tak memerlukan lahan khusus. Bisa ditanam di ladang, tanpa mengganggu ekosistem hutan di Indonesia. ”Jika dilihat, selama ini kebutuhan dunia untuk kayu sengon sangat besar. Tapi ya itu tadi, Indonesia baru memenuhi 3-4 juta kubik saja,” kata Arlinda kepada Jawa Pos Radar Solo dalam International Lightroom Cooperation Forum (ILCF) ke-3 di De Tjolomadoe, Jumat (19/10).

Dari sini, pemerintah mulai menggalakkan program penanaman 1 miliar pohon sengon dalam setahun. Harapannya bisa memenuhi kebutuhan pasar global. Sebagai catatan, satu pohon sengon diperkirakan bisa menghasilkan 1 kubik kayu. Dari program ini diharapkan Indonesia bisa menghasilkan 1 miliar kubik sengon per tahun.

”Sengon bisa ditanam di pekarangan rumah atau perkebunan. Hasil panen sudah bisa dilihat dalam kuruan lima tahun saja. Maka dari itu, masyarakat juga bisa melakukannya,” terang Arlinda.

Mendukung program ini, Indonesia menjalin kerja sama dengan Swiss Import Promotion Desk (SIPPO) dan Import Promotion Desk (IPD) Germany. Penjajakan ini untuk mengetahui pemasaran sengon di Eropa. Sebab benua biru punya sistem dan persyaratan yang beragam dalam perdagangannya. ”Sehingga kita juga perlu banyak belajar dengan sistem perdagangan di sana,” ujarnya.

Dari kerja sama ini, akan mempertemukan buyer dan pengusaha dari Indonesia. Supaya bisa saling mengenalkan produk kayu ringan yang ada di Indonesia. ”Bukan hanya capasity building, tapi juga sertifikasi bagi pengekspor,” tandas Arlinda.

Ketua Umum Indonesia Lightwood Association (ILWA), Sumardji Sarsono mengaku selama ini Indonesia memproduksi Sengon dalam bentuk barecore atau setengah jadi. Kemudian diekspor ke Tiongkok dan Taiwan. Padahal jika dijual dalam bentuk jadi, harganya bisa dua kali lipat.

”Padahal sebenarnya kalau diekspor ke negara lain bisa dua kali lipat. Karena itu kami berupaya melebarkan sayap ke sana,” jelas Sumardji.

Tak sendirian, Indonesia juga mendapat saingan dari sesama negara Asia Tenggara. Sebut saja Filipina dan Vietnam. Kedua negara ini juga sudah memulai membidik pasar ekspor kayu sengon. Hanya saja kualitas produk dan kuantitasnya tidak sebesar Indonesia.

”Potensi kayu ringan ini sama kualitasnya dengan kayu tropis. Namun penanamannya lebih mudah. Karena itu sangat diminati di Eropa. Selain itu kami juga menjalin kerja sama dengan universitas untuk pemenuhan kualitas bibit,” urai Sumardji. (vit/fer)

(rs/vit/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia