Rabu, 21 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features

Berkat Terapi Menulis, Pria Ini Berhasil Lepas dari Jeratan Narkoba

Rabu, 24 Oct 2018 08:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Ari Hermawan (kaos putih) di sela kegiatan mendampingi warga binaan di Rutan Wonogiri.

Ari Hermawan (kaos putih) di sela kegiatan mendampingi warga binaan di Rutan Wonogiri. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

TRAUMA masa kecil menyaksikan konflik bersenjata membawa anak eksodan konflik Aceh 1998 mengalami trauma panjang. Bahkan Ari Hermawan Saputra sempat terjerumus mengonsumsi narkoba. Akhirnya, dia bisa keluar dari jeratan barang haram ini lewat terapi menulis buku.

Ari Hermawan Saputro baru keluar dari Rutan Kelas IIB Wonogiri untuk mendampingi warga binaan di sana. Ya, belakangan, bapak satu anak ini memang aktif mendampingi warga binaan untuk kegiatan literasi. 

“Untuk memanusiakan warga binaan, saya beri kegiatan literasi, menulis, dan membaca puisi. Tulisan mereka juga bagus-bagus,” kata Ari kepada Jawa Pos Radar Solo.

Ari merupakan penulis puisi. Karya-karyanya sudah terbit di beberapa media. Bukan tanpa alasan dirinya memilih menjadi penulis. Selain hobi, menulis juga merupakan salah satu terapi untuk terlepas dari jeratan narkoba. 

“Saya lama pakai narkoba. Saat kuliah sempat kecelakaan dua kali hingga kaki saya patah. Belum sembuh benar kecelakaan patah lagi,” kenang pria kelahiran Agustus 1988 ini.

Awal terjerumus narkoba karena trauma yang berkepanjangan saat mengalami konflik berdarah di Aceh, 2 dasawarsa silam. Saat itu, usianya baru 11 tahun. Tepatnya kelas 5 SD. Di usia yang belum akil balig harus menyaksikan sendiri konflik bersenjata. 

“Yang sering itu teror. Misalnya ditinggali peluru di sekitar rumah. Suara rentetan senjata. Melihat mayat bergelimpangan dengan hidung dicucuk layaknya sapi. Itu sudah biasa setiap hari. Ayah saya biasa menutupi mayat-mayat itu dengan daun,” kata alumni SMPN 3 Bulukerto, Wonogiri ini. 

Awalnya, pada 1980, keluarga ayah dan ibunya —saat itu masih sama-sama bujang— transmigrasi ke Aceh. Ditempatkan di Sumber Batu, Kabupaten Meulaboh. Kemudian, ayah dan ibunya menikah lalu lahirlah dirinya pada 1988. Ari menghabiskan masa kecil di desa itu. Di mana satu desa berisi transmigran semua. 

“Ya karena konflik. Kami tepatnya di usir dari tanah Aceh. Perjalanan keluar dari tanah konflik di Aceh tidak mudah,” kenang Ari.

Konflik mulai memuncak di awal 1998. Para transmigran asal Wonogiri akhirnya terpaksa keluar dari Aceh, tepatnya dari Kabupaten Meulaboh. Rombongan lebih dari 50 orang, diangkut dengan Bus PM Toh menembus jalanan mencekam dari Meulaboh ke Medan, Sumatera Utara. 

“Suasana mencekam, takut, khawatir, was-was bercampur aduk menjadi satu. Suasana di dalam bus begitu sunyi, penuh sesaknya tersembunyi oleh rasa takut. Karena, beredar kabar beberapa rombongan sebelumnya tidak selamat karena busnya dibakar,” kisahnya. 

Rombongan kemudian tiba di sebuah tempat bernama Pangkalan. Bus saat itu dihentikan oleh kelompok bersenjata. Kebetulan ayahnya yang mengenali beberapa orang bersenjata di antaranya kemudian turun. Namun, ayahnya justru ditodong pistol, dihajar dan diinjak-injak. Wajahnya sampai berdarah-darah. Rasa takut membuat seluruh isi bus semakin hening. 

Sampai di Medan, rombongan kemudian berganti bus menuju Wonogiri. Perjalanan darat membutuhkan waktu 7 hari 6 malam. Hingga tibalah rombongan di kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Wonogiri. Masalah, belum selesai sampai di situ. 

“Kami hampir dua minggu terkatung-katung, tidur di tenda, ada pula yang di ruangan dengan alas seadanya,” ujarnya.

Sebagian besar sudah tidak memiliki apa-apa lagi di Wonogiri. Kala itu ada yang pulang ke Paranggupito dan Pracimantoro. Yang tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi ditempatkan di rumah petak di Desa Watuagung, Selomarto, dan Sirnoboyo. Belakangan, pemerintah sudah menerbitkan sertifikat tanah bagi mereka. 

“Sampai lulus SD saya tinggal di rumah petak di Watuagung. Lalu melanjutkan di SMPN 3 Bulukerto (sekarang sudah tidak ada) lalu melanjutkan ke SMAN 1 Slogohimo,” katanya. 

Beberapa keluarga, termasuk ayah dan ibunya kemudian kembali memutuskan transmigrasi lagi ke Palembang. Sisanya memilih tinggal karena trauma, termasuk dirinya yang memilih tinggal ikut kakek dan neneknya di Wonogiri. 

“Administrasi kependudukan dipindah ikut nenek, akta semua diubah, dianggap anaknya simbah. Ibu dan bapak transmigrasi lagi, di Sumatera selatan. Nah, masuk kuliah itulah saya mulai nakal, terlibat penyalahgunaan narkoba. Efek trauma, pikiran buntu," katanya. 

Dua kali mengalami kecelakaan membuat Ari tersadar, bahwa nyawanya bisa saja diambil saat kecelakaan pertama yang membuat kakinya patah.

Namun itu tidak bertahan lama. Belum sembuh benar lukanya, dia kembali nekat memakai narkoba lagi hingga kecelakaan kedua yang kakinya patah pada kaki yang sama. 

“Dengan bimbingan beberapa dosen akhirnya saya menekuni dunia tulis menulis. Menulis ini memang sebuah terapi yang ampuh hingga saya sekarang bisa sembuh dari narkoba,” kisahnya.

Kini dia membaktikan diri untuk masyarakat dan para warga binaan di rutan. Ari menularkan terapi menulis ini kepada para narapidana di dalam penjara agar mereka ketika keluar dari penjara tidak lagi terjerumus ke jalan gelap.  (kwl/bun)

(rs/kwl/fer/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia