Rabu, 21 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features

Wow! Dicampur Tulang Sapi Beton Semen Jadi Lebih Kuat

Kamis, 25 Oct 2018 07:30 | editor : Fery Ardy Susanto

Yesika bersama Panji dan Farhan, penemu metode campuran semen beton dengan tulang sapi.

Yesika bersama Panji dan Farhan, penemu metode campuran semen beton dengan tulang sapi. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

TULANG sapi tak hanya nikmat dijadikan kaldu menu masakan di dapur. Bongkahan tulang sapi ternyata bisa menjadi bahan campuran beton semen yang kuat dan cepat kering.

Metode ini ditemukan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS), Yesika Azzukhruf, Panji Pramayswara Pamilih, dan Farhan Nurfi Afriansyah. Mereka mengklaim beton campuran tulang sapi lebih cepat kering dan berkualitas dibandingkan beton semen biasa.

“Beton semen perlu waktu tiga hari untuk proses pengeringan. Dengan campuran tulang sapi, cukup 24 jam atau sehari saja sudah keras. Dengan waktu singkat tersebut, kekuatan tekan beton sebesar 25 megapascal (satuan kuat tekan). Di umur 28 hari, kuat tekan bakal bertambah juga,” klaim Yesika Azzukhruf kepada Jawa Pos Radar Solo.

Keunggulan lain, sangat cocok diaplikasikan untuk pengerasan jalan.

“Rencananya akan diaplikasikan untuk itu (jalan). Namun untuk big scale-nya kami masih butuh penelitian lebih lanjut,” urai Yesika.

Dari segi biaya, beton tulang sapi lebih hemat. Per meter kubiknya dapat menghemat 7,78 persen dari biaya produksi. Atau hemat sekitar Rp 100 ribu per meter kubik.

“Memang tidak signifikan. Tapi kalau untuk big scale, ini jumlah yang sangat lumayan hemat,” imbuhnya.

Selain tulang sapi, limbah marmer juga turut andil dalam kekuatan beton mutu tinggi tersebut. Yesika bersama dua rekannya, Panji dan Farhan mendapat inspirasi membuat inovasi tersebut saat melakukan studi literatur.

“Dalam salah satu literatur yang kami baca, disebutkan kalsium oksida (CaO) berfungsi mempercepat pengerasan pada beton. Otomatis, kalau betonnya cepat keras, maka kuat tekannya juga semakin tinggi,” beber Yesika.

CaO dapat ditemukan pada bubuk tulang. Yesika menjelaskan, tulang digunakan dalam struktur beton karena memiliki kandungan CaO besar. CaO sendiri merupakan komposisi terbesar dalam semen.

Sementara marmer memiliki unsur kimia utama silikon dioksida atau silikat (SiO2), CaO, dan magnesium oksida (MgO). Kandungan kimia tersebut sebagian terdapat dalam semen. Selain unsur kimia, marmer juga dikenal memiliki kuat tekan cukup tinggi.

“Memeroleh bubuk tulang, kami menggiling tulang yang sudah menjadi limbah. Kemudian kami campur dengan limbah marmer sisa hasil produksi. Marmer ini bentuknya bongkahan. Kami olah dulu menjadi seukuran kerikil,” papar Yesika.

Dalam beton silinder berukuran 10x20 meter kubik, menggunakan bubuk tulang sapi sebesar 7,5 persen dari jumlah penggunaan semen. Sehingga perhitungannya 7,5 persen bubuk tulang sapi. Sisanya semen yang terdiri dari 60 persen kerikil dan 40 persen marmer.

Hasil karya Yesika dkk ini lantas diikutsertakan dalam kompetisi Inovasi Beton Internasional (International Concrete Competition) 2018 yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, beberapa waktu lalu.

“Tidak ada target khusus ke depan. Dengan self compacting concrete (SSC) yang ramah lingkungan dan kantong ini kami sudah sangat bangga. Metode ini mampu membuat beton memadat sendiri tanpa memerlukan vibrasi atau upaya lain untuk memadatkan beton,” ucap Yesika. (aya/bun)

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia