Rabu, 21 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Komoditas Telur Masih Stabil

Jumat, 26 Oct 2018 21:05 | editor : Perdana

HANYA MENUNGGU: Demo peternak ayam petelur di Bundaran Gladak, beberapa waktu lalu.

HANYA MENUNGGU: Demo peternak ayam petelur di Bundaran Gladak, beberapa waktu lalu. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Pascademo peternak ayam petelur pekan lalu, tidak ada perubahan signifikan terhadap harga di pasaran. Padahal peternak meminta adanya kenaikan harga telur lepas kandang hingga Rp 18 ribu per kg. Namun hingga sekarang harga telur masih berada di angka Rp 16.800 per kg.

Pedagang Pasar Legi, Fredi, 56, mengaku harga telur ayam masih stabil di angka Rp 16.800 per kg. Padahal sebelumnya harga per kg mencapai Rp 17 ribu.

”Belum ada kenaikan harga. Rata-rata setiap hari bisa menjual 150 peti. Satu petinya isi 15 kg. Kalau saat ini permintaan tidak ada masalah, jadi kondisinya stabil,” terang Fredi kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (24/10).

Pedagang lainnya, Maryani, 54, membenarkan jika harga telur ayam stabil. Per hari dia mampu menjual 10 peti. Terkait harga, sekitar Rp 18 ribu per kg. ”Meskipun harganya turun, tapi permintaannya tetap sama,” bebernya.

Di tingkat pengecer, harga telur ayam mencapai Rp 20 ribu. Padahal saat harga tinggi, bisa menyentuh Rp 24 ribu per kg. ”Kalau sepekan ini harganya tidak berubah,” urainya.

Sementaar itu Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Solo, Agus Eko Sulistyo tidak bisa berbuat banyak terkait harga ini. Pihaknya hanya bisa menunggu kondisi normal kembali. Saat ini, harga telur ayam lepas kandang per kg hanya Rp 16.600.

Menaikkan harga tersebut menjadi Rp 18 ribu per kg dinilai sangat sulit. ”Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Yang kami lakukans ekarang ini ikut irama saja,” tandas Agus.

Saat ini yang bisa dilakukan peternak, hanya mengurangi jumlah ayam yang sudah upkir. Di mana ayam yang sudah tidak produktif dikurangi untuk menekan ongkos pakan ayam. ”Padahal  harga jagung untuk pakan ayam naik,” keluhnya.

Pinsar Solo percaya kondisi ini tidak akan berlangsung lama. Maka dari itu, para peternak menunggu hingga kondisinya stabil. ”Ya kami tidak bisa berbuat hal lain. Kami hanya menunggu kebijakan pemerintah saja,” terang Agus. (vit/fer)

(rs/vit/per/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia