Rabu, 21 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features

Saluran Air PDAM Rawan "Dijebol"

Minggu, 28 Oct 2018 09:50 | editor : Perdana

RUTIN: Pekerja melakukan perawatan jaringan pipa PDAM. 

RUTIN: Pekerja melakukan perawatan jaringan pipa PDAM.  (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO - Air menjadi kebutuhan utama makhluk hidup. Sebab itu, ketika kualitas dan pasokannya terganggu, tentu menimbulkan dampak cukup besar. Seperti yang belum lama ini dialami PDAM Surakarta.

Sayangnya, kebutuhan air bersih yang vital belum dengan sarana prasarana optimal. Di antaranya keamanan jaringan pipa PDAM yang mengalir ke rumah pelanggan.

Selama ini, bila ada masalah, petugas PDAM hanya mengandalkan laporan dari warga. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Di antaranya lewat media sosial.

“Jadi apabila ada temuan (keluhan, Red) di medsos (media sosial, Red) akan langsung diteruskan ke bidang layanan sehingga bisa cepat ditindaklanjuti,” ungkap Direktur Teknis PDAM Surakarta Tri Atmojo .

Seperti pencemaran air PDAM yang diduga dilakukan pabrik pewarna tekstil PT Mahkota Citra Lestari (MCL) sehingga membuat air yang mengalir ke pelanggan berwarna merah. Kondisi tersebut diketahui setelah pelanggan mengeluhkan kualitas air. 

Tri mengklaim, kasus tersebut baru pertama kali dialaminya selama 26 tahun menjabat di PDAM Kota Bengawan. Kasus lainnya yakni  ilegal conection atau rumah tangga bukan pelanggan namun mengambil air dari jaringan PDAM. 

“Kasus seperti itu pernah terjadi beberapa tahun silam. Di Solo bagian timur, terdeteksi ada tiga pelanggan ilegal,” tegasnya.

Guna mencegah hal tersebut terulang, pihak PDAM Surakarta mulai melakukan pendataan kepada bekas pelanggan. Dari data tersebut akan dianalisis oleh tim internal PDAM mana saja yang kira-kira berpotensi besar melakukan sambungan ilegal.

Bagaimana cara mendeteksi terjadinya pencurian air? Tri menjelaskan, air PDAM mengandung zat gas cluer. Maka petugas akan mengambil sampel air dari rumah tangga tersebut. Kemudian dicampur dengan zat ortotolidin. 

“Ketika dicampur berubah warna kuning, berarti itu air dari jaringan kita. Kalau tidak, berarti air tanah. Memang kelemahannya (pengecekan, Red) masih manual. Jadi kita door to door ke rumah,” ujarnya.

Namun, mulai tahun depan, PDAM akan memberlakukan sistem distrik meter area. Jadi, meteran yang terpasang di rumah pelanggan akan terkoneksi dengan dengan meteran di PDAM. Ketika dilakukan pengecekan dan terjadi selisih data pemakaian air, berarti ada kecurangan.

Sanksinya, lanjut Tri, masyarakat yang curang akan diberi sanksi berupa denda. Yakni, untuk pelanggaran pengambilan air secara ilegal bisa didenda Rp 1 juta. Kemudian ditambah dengan biaya tagihan selama air masuk ke dalam lokasi tersebut. Sehingga harga tertinggi dikali 30 meter kubik dikali minimal 12 bulan.

“Kita memberikan toleransi bagi masyarakat yang curang tersebut dengan memberikan surat teguran dan surat pemberitahuan denda. Apabila tidak ada niatan baik untuk membayar, kita sudah ada MoU dengan Kejari Surakarta. Artinya, akan diproses lewat jalur hukum,” tegasnya. (atn/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia