Rabu, 21 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features

Melihat Kayak Berstandar Internasional Karya Perajin Lokal

Minggu, 28 Oct 2018 11:50 | editor : Perdana

STANDAR INTERNASIONAL: Wahyudi dan kayak buatannya.

STANDAR INTERNASIONAL: Wahyudi dan kayak buatannya. (A.CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Event akbar Asian Games belum lama ini membuat Wahyudi Christianto panen rupiah. Kano dan kayak buatannya yang sudah berstandar internasional laris manis dipesan.

A. Christian, Solo.

PRIA ini tidak menyangka bisa sukses menjadi perajin kayak. Sebab, awalnya dirinya hanya perajin dari bahan-bahan viber glass. Keterampilannya membuat kerajinan didapat saat masih duduk di bangku SMA. Kala itu dirinya baru sebatas membuat gantungan kunci, patung, dan peralatan rumah tangga.

Nah, pada 2005, Wahyudi melihat pertandingan kayak di Jogjakarta. Dia kemudian mendatangi salah seorang pelatih dan bertanya asal kayak yang digunakan. Dia kaget karena dibeli dari Belgia.

“Kemudian saya berpikir, masak perahu (kayak, Red) saja harus beli dari luar negeri,” ujar warga Jalan Nuri 3 No. 8 RT 03 RW 03 Kelurahan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari ini.

Setelah itu, Wahyudi bertekad membuat kayak sendiri. Awalnya dia membeli kayak sebagai molding atau master cetakan. Bermodal master tersebut, dia bereksperimen. Ternyata, membuat kayak tidak semudah yang dibayangkan. Setidaknya lima unit kayak dibuang karena produk gagal.

“Setelah jadi, saya coba sendiri. Saya juga meminta pendapat dari atlet dayung yang saya kenal. Kurang apa, enak apa tidak kalau dipakai. Kalau kurang nyaman yang langsung saya buang. Karena kalau bahan viber tidak bisa didaur ulang. Kalau gagal yang dibuang,” ujar pria kelahiran Solo, 5 Februari 1976 itu.

Untuk membuat satu kayak, setidaknya butuh dua hari. Ukuran juga menentukan waktu pengerjaan yang masih dilakukan secara manual. “Berbeda sama di negara-negara lain yang sudah pakai mesin. Meski begitu, produk ini sudah sesuai standar internasional,”  bebernya.

Untuk membantu pembuatan kayak dan kano di workshop Jalan Kelud Raya, Kampung Gambir Sari, Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Wahyudi melibatkan empat orang pegawai. Mereka sebelumnya mendapatkan pelatihan khusus guna menjaga kualitas produksi. 

“Tidak asal seimbang. Panjangnya harus tepat, kemudian lebarnya. Serta beratnya tidak boleh lebih dari 12 kilogram,” katanya.

Ada dua bahan baku yang digunakan Wahyudi. Untuk kayak biasa terbuat bahan fiber glass, sedangkan kualitas lomba berbahan carbon kevlar yang diimpor lewat importer di Semarang dan Surabaya. 

Ketika ada ajang olahraga tingkat nasional hingga internasional, setidaknya lebih sepuluh unit kayak bisa dijual. Sedangkan pada hari biasa, bisa terjual lima unit. “Yang beli bukan dari penyelenggara acara lho. Yang beli itu ya dari pelatih-pelatih daerah untuk latihan maupun lomba,” jelas dia.

Per unit kayak dijual Rp 7,5 juta hingga Rp 32 juta tergantung spesifikasi. Sedangkan dayung dari Rp 1,5 juta sampai 15 juta. 

Jika tidak ada event olahraga, Wahyudi membuat produk lain dari bahan viber. Seperti perahu nelayan, speed boat, jetsky, dragon boat, hingga patung selfie. Speed boat dibanderol Rp 78 juta hingga Rp 110 Juta tergantung kekuatan mesin. Jetsky Rp 180 juta hingga Rp 320 juta.  “Kalau cuma menjagakan event olahraga, tidak diimbangi seperti itu (produk lain, Red) bisa bangkrut,” kelakarnya. (*/atn)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia