Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features
Derita Korban Kebakaran Pasar Legi

Uang Rp 50 Juta di Laci Pedagang Bawang Ikut Terbakar

Rabu, 31 Oct 2018 10:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Sri Ratna berharap bisa memulai kembali usahanya meski mulai dari nol.

Sri Ratna berharap bisa memulai kembali usahanya meski mulai dari nol. (A CHRISTIAN/RADAR SOLO)

ADA banyak kisah pilu dialami pedagang Pasar Legi. Tidak hanya tempat mereka berjualan yang habis dilalap api, namun uang hasil jualan mereka pun ada yang habis terbakar.

Sri Ratna hanya bisa menatap nanar ketika petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surakarta melakukan proses pendinginan di puing-puing kebakaran Pasar Legi, Selasa (30/10) pagi. Sesekali air matanya mengalir dari sela matanya. Dia tak kuasa melihat kondisi gedung yang menjadi lokasi usahanya selama 30 tahun lebih ini tinggal arang.

Kalud. Inilah yang ada di benak Sri Ratna. Bagaimana tidak? Pedagang 67 tahun ini mengalami kerugian luar biasa. Setidaknya 5 ton lebih bawang merah seharga Rp 100 juta yang baru saja didrop ke kiosnya 30 menit sebelum kebakaran terjadi ludes jadi arang. 

“Pas banget juragannya datang, terus saya bayar. Baru sekitar 5 menit, api dari sisi barat sudah menyala. Saya langsung lari keluar untuk menyelamatkan diri,” kata pedagang asal Gondagrejo, Karanganyar ini kepada Jawa Pos Radar Solo.

Setelah sampai di bawah, Sri Ratna baru teringat masih ada uang sebesar Rp 50 juta di dalam laci mejanya hasil jualan selama seharian kemarin. Perempuan parobaya ini pun nekat naik kembali ke lantai 2 kiosnya dan berharap bisa menyelamatkan uangnya. Namun karena hembusan api sangat kencang dan sudah mengepung tiga kiosnya, akhirnya dia memilih mundur dan hanya bisa pasrah.

“Padahal saya sudah tidak punya tabungan lagi. Uanganya terlanjur  untuk bayar bayar bawang merah tadi. Sekarang bingung mau bagaimana. Untuk kulakan sudah tidak punya uang lagi. Rencananya mau gadaikan sertifikat rumah dan cari pinjaman modal untuk mulai dari nol lagi,” katanya.

Apakah usahanya ini diasuransikan? Sri Ratna mengatakan tidak. Baginya uang hasil jualan lebih berfaedah guna membeli stok barang. “Kalau pedagang mana mikir sejauh itu mas. Yang penting dapat uang mending untuk kulakan. Itu jelas awet terus bisa dijual lagi. Tapi malah jadinya begini,” ujarnya dengan nada sedih.

Selama puluhan tahun berdagang, dia mengaku memiliki kenangan tersendiri. Sebab, dia sendiri merupakan generasi ketiga di keluarganya yang berdagang di pasar legendaris tersebut. Awalnya yang berjualan di lokasi tersebut merupakan neneknya. 

“Saya masih ingat betul. Kalau liburan sekolah selalu diajak simbah bantu-bantu jualan. Waktu itu masih lapak. Setelah sakit-sakitan, diwariskan ke ibu, lalu diserahkan ke saya karena anak paling tua,” katanya.

Yang terpenting, lanjut Sri Ratna, pemkot bisa segera merealisassikan lokasi pasar darurat sehingga dia bersama para pedagang lain bisa cepat menggelar dagangannya. Tentunya, dia bersama pedagang lain berharap lokasi jualan tidak jauh dari Pasar Legi.

“Di sini lokasinya strategis. Mudah dijangkau dari mana-mana.  Apalagi sini sudah dikenal pasar induk, jadi pedagang-pedagang pasti kulakkan di sini. Belum lagi pelanggan-pelanggan sudah hafal sini. Jadi intinya kalau dipindah jangan sampai mematikan pedagang,” tutur Sri Ratna. (*/bun)

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia