Sabtu, 17 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Boyolali

Wow! Diecast Motor Sport dari Tutup Kaleng Bekas Harganya Jutaan

Senin, 05 Nov 2018 07:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Lumadi dan replika sepeda motor sport hasil karyanya banyak dilirik.

Lumadi dan replika sepeda motor sport hasil karyanya banyak dilirik. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

SERING barang-barang bekas dibiarkan begitu saja menumpuk di sekitar rumah. Padahal bila disentuh dengan tangan-tangan kreatif, bisa saja menjadi lahan bisnis.

Inilah yang dilakukan Lumadi. Pemuda 28 tahun asal Desa Keposong, Kecamatan Musuk, Boyolali ini menyulap barang tak terpakai menjadi replika motor sport bernilai ekonomis tinggi. Idenya muncul sekitar 2014.

Saat itu, di sela kesibukannya sebagai pematung, lulusan SMK Negeri 9 Solo ini melihat barang-barang bekas sisa pekerjaannya seperti gagang cutter, korek api, dan sebagainya terbuang begitu saja. Dia lalu berpikir memanfaatkan barang-barang bekas itu untuk dijadikan sesuatu yang lebih bermanfaat.

“Karena saya hobi otomotif, saya kepikiran untuk membuat sepeda motor (skuter) Vespa dan setelah berjalan mulai bergeser ke sepeda motor sport seperti sekarang ini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Untuk membuat replika sepeda motor, dia menggunakan barang bekas seperti botol sampo, tutup kaleng lem, cotton bud, hingga batang permen kojek. Tapi dalam mewujudkan kreasi ini ternyata tidak selalu berjalan mulus. Karena untuk membangun sebuah replika sepeda motor, dibutuhkan komponen tertentu sesuai dengan elemen/onderdil pada sebuah sepeda motor.

Sayangnya, barang-barang bekas yang tersedia di sekitarnya tidak selamanya sesuai dengan kebutuhan tersebut. Tak kurang akal, Lumadi pun mencari-cari barang bekas lain yang sekiranya mendekati bentuk maupun ukurannya sesuai dengan skala replika yang direncanakan.

“Biasanya saya cari lainnya. Tapi ya tidak usah jauh-jauh. Bahan yang ada di sekitar kita saja,” imbuh Lumadi.

Selain itu, kesulitan pada pembuatan replika ini hampir terjadi pada seluruh proses. Mulai dari penentuan skala, pengumpulan bahan, hingga perakitan.

“Karena ini menggunakan barang bekas yang ukurannya juga tidak beraturan, kami juga harus memikirkan bahan dan perakitannya, karena kami tidak menggunakan pengeleman. Semuanya bisa dibongkar dan dipasang kembali,” ujarnya.

Karena itu, untuk membuat sebuah replika, dibutuhkan waktu yang bervariasi, tergantung tingkat kesulitan model dan ketersediaan barang-barang bekas. Untuk sebuah replika sepeda motor sport ini, dia jual senilai rata-rataRp1,5 juta. Tapi, untuk pemesanan replika ini sepertinya peminat harus bersabar karena dia harus berbagi waktu dengan kesibukannya membuat patung dan pengumpulan bahan. (wid/bun)

(rs/wid/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia