Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Olahraga

Olahraga Panah Tradisional Semakin Diminati

Senin, 05 Nov 2018 18:30 | editor : Perdana

MEMUKAU: Perform Tarian Srimpen Jemparing saat membuka kejurnas SSOAC khusus kelas jemparingan di Benteng Vastenburg.

MEMUKAU: Perform Tarian Srimpen Jemparing saat membuka kejurnas SSOAC khusus kelas jemparingan di Benteng Vastenburg. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO – Panahan tradisional jadi salah satu olahraga yang harus dilestarikan. Tantangan besar tumbuh dari para pegiatnya, salah satunya tentu saja kembali melestarikan panahan yang sudah tumbuh di Indonesia sejak ratusan tahun. 

Tak hanya Jawa, Bali juga jadi salah satu daerah yang melestarikan dan mengembangkan panahan tradisional. Jepun Bali Traditional Archery Community yang baru dibentuk enam tahun lalu, mengakui perkembangan panahan tradisional bisa dibilang lebih baik dari sebelumnya.

 ”Awalnya dulu susah sekali mau menggiring untuk belajar. Kalau sekarang semakin banyak yang melirik dna mau untuk mendalaminya,” terang Anak Agung Anom Giri, Pendiri  Jepun Bali Traditional Archery Community kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Saat ini Jepun sudha memiliki 55 orang atlet binaan. Keikutsertaan mereka di Sipas Solo Open Archery Competition (SSOAC) #2 di Benteng Vastenburg Solo, ternyata jadi pemanasan sebelum menggelar acara yang lebih besar di Kota mereka.

“Tahun depan kami akan menyelenggarakan kejuaraan nasional di Taman Budaya GWK (Garuda Wisnu Kencana). Kami harap yang ikut bisa cukup banyak nantinya. Kami akan mengemas cukup unik dan menarik pastinya. Panahan budaya di lokasi yang cukup eksotik,” terangnya.

Salah satu harapan Anak Agung Anom Giri adalah panahan tradisional bisa kembali di gelar di Pekan Olahraga Nasional (PON). Terakhir kali cabor ini digelar di Samarinda 2008 silam. Di PON Papua 2020, pihaknya optimistis panahan tradisional bisa digelar kembali.

”Kami sudah berkoordinasi dengan Papua. Mereka punya banyak atlet potensial, tapi semua tentu menunggu kesepakatan dari jemparingan nasional. Minimal peserta PON adalah setengah jumlah provinsi di Indonesia, jadi harus ada sekitar 16 daerah yang menyipkan cabor ini jika mau digelar di PON,” tuturnya. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia