Rabu, 21 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Jateng

Peternak Ini Sukses Budidayakan Ayam Pendeteksi Gempa Bumi

Selasa, 06 Nov 2018 08:30 | editor : Fery Ardy Susanto

Rudi Rosadi memperlihatkan ayam jenis ring neck di rumahnya.

Rudi Rosadi memperlihatkan ayam jenis ring neck di rumahnya. (DOKUMEN PRIBADI)

RUDI Rosadi sukses budidayakan ayam jenis ring neck yang kabarnya bisa mendeteksi bencana gempa bumi. Bahkan personel Mabes Polri dan TNI AU pernah pesan ayam itu kepadanya.

Sejak kecil, Rudi Rosadi sudah akrab dengan unggas berjenis ayam. Hal ini karena orangtuanya memang memelihara dan memiliki ayam yang cukup banyak. Selain itu, karena Rudi, sapaan akrabnya tidak banyak memiliki mainan. Jadi ia biasa main dengan ayam.

”Orangtua saya memang lebih suka saya akrab dengan ternaknya. Jadi setiap kali saya minta mainan ya jarang sekali diberikan. Kadang malah saya dimarahi,” katanya.

Orangtua Rudi memang unik. Ia terlihat ingin sekali anak-anaknya akrab dengan hewan-hewan peliharaan. Bahkan, ketika anak laki-laki yang sedang khittan diberikan hadiah yang sangat didambakan si anak. Orangtua Rudi justru memberikan seekor ayam kepadanya.

Sebenarnya Rudi kaget dengan hadiah yang diberikan orang tuanya itu. Namun ia tetap menerimanya dan merawatnya hingga tumbuh besar dan berkembangbiak. Awalnya ayah dua anak ini tak habis pikir apa yang dimaksudkan orang tuanya. Hingga akhirnya sekarang ia menyadarinya.

”Ternyata apa yang dilakukan orang tua saya berdampak besar pada kehidupan saya sekarang. Alhamdulillah dari ayam saya bisa menghidupi keluarga saya,” ucapnya.

Meskipun sudah lama akrab dengan dunia unggas, namun suami Dian Milnasari ini mulai tekun sejak enam tahun lalu. Hingga sekarang, sudah ada ratusan ayam hias berbagai jenis yang berhasil dikembangbiakkan. Mulai dari ayam kate, ring neck, brahma, polandia, hingga kalkun.

Dari semua jenis itu, ring neck merupakan ayam yang menjadi favoritnya. Ayam jenis ini merupakan jenis ayam hutan dari Tibet. Selain bentuk unik dan warnanya yang cantik, ayam jenis ini juga dapat mendeteksi gempa.

Ini yang menjadi alasan banyak yang cari. Selain di sekitar Karisidenan Pati, pesanan ayam jenis ini juga datang dari luar kota. Seperti Bandung, Jakarta, Jogja, hingga Bali. Sejumlah tokoh juga pernah menjadi pelanggannya.

”Salah satu personel dari mabes polri pernah beli ayam jenis ini kepaada saya. Salah satu kolonel dari TNI AU juga,” katanya.

Meskipun telah memiliki pengalaman yang cukup, pria yang tinggal di Jalan Kiangkat 1 Nomor 508 di RT 03/RW 03, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten kudus itu, mengaku, sempat mengalami masalah dalam pengembangbiakan ayam jenis ini.

Ia berujar ayam sering ini sering tak mau mengerami telurnya. Jadi dulu ia sering gagal karena telur tidak bisa menetas. Ia terus berupaya untuk mencari solusi atas permasalahannya ini.  Hingga akhirnya ia bisa membuat mesin penetas telur sendiri.

”Saya menceritakan kendala saya ini kepada teman-teman sekominitas dan juga kaka saya yang ada di ITB. Akhirnya bersama dia saya bisa belajar  membuat alat ini,” jelasnya.

Berkat alat ini juga ia bisa mengembangkan jenis ayam lainnya yang kebanyakan diimpor dari luar negeri. Dikatakannya, adanya alat ini sangat membantunya. Sebab, ia tak mungkin mengimpor ayam hidup.

”Saya kalau impor ya telur. Nanti saya tetaskan di sini. Memang tidak semuanya bisa menetas. Namun dengan alat ini setidaknya 75 persen bisa sempurna menetas,” ungkapnya.

Tak hanya itu, alat buatannya ini juga dapat mempercepat proses penetasan. Jika tanpa alat ini penetasan ayam dalam kurun waktu sama hanya bisa menetaskan dua kali, dengan bantuan alat ini, bisa sampai tiga kali menetas.

”Selain menjadi pembantu terhadap ayam yang tidak mau mengerami telurnya, juga mengamankan ayam nakal yang sering memakan telurnya sendiri,” pungkasnya. (dyah ayu/zen/JPG/fer)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia