Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Warga Blokade Jalan, Proyek KA Bandara Mandek

Rabu, 07 Nov 2018 11:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Warga Bayan, Kadipiro memblokade jalan masuk ke proyek kereta bandara, Selasa (6/11).

Warga Bayan, Kadipiro memblokade jalan masuk ke proyek kereta bandara, Selasa (6/11). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO - Kekecewaan warga Kampung Bayan, Kelurahan Kadipiro, Bajarsari terkait pengerjaan proyek kereta api bandara memuncak. Usai memasang belasan spanduk keluhan dampak debu proyek, Selasa (6/11), warga turun ke jalan menghentikan aktivitas konstruksi proyek tersebut. Mereka menuntut aktivitas proyek distop sepekan sampai tuntutan warga dipenuhi.

Sejak pagi, puluhan warga sudah berkumpul ruas Jalan Manunggal, Kadipiro. Mereka menghadang sejumlah pekerja proyek yang hendak beraktivitas melanjutkan pengerjaan proyek nasional tersebut. Tepat pukul 08.00 WIB, mereka mulai menempel berbagai spanduk protes dan tuntutan pada sejumlah alat berat yang diparkir di bahu jalan itu.

“Kami tempeli alat berat biar tidak dioperasikan. Ini kelanjutan aksi Senin (5/11) lalu,” jelas Mulyono, warga Kampung Bayan, RT 01/RW 07, Kelurahan Kadipiro, Banjarsari saat ditemui Jawa Pos Radar Solo.

Aksi tersebut berjalan lancar. Tak terlihat sedikitpun perlawanan dari pekerja maupun penanggung jawab proyek setempat. Warga pun mulai menduduki sejumlah tempat strategis, namun hingga beranjak siang, tak satu pun orang berwenang dari proyek setempat terlihat batang hidungnya.

“Pembangunan kami hentikan dahulu sampai pekan depan. Jika ada pekerja yang nekat melakukan pekerjaan kami larang,” tegas Mulyono. 

Meski berjalan kondusif, aksi turun ke jalan itu membuat lalu lintas di jalan tersebut tersendat. Padahal, jalan itu merupakan satu-satunya akses keluar masuk warga di utara Kelurahan Kadipiro tersebut. Keos terjadi saat lurah setempat datang menemui warga. Saat itulah warga dengan nada keras mulai berkeluh kesah soal tuntutan warga yang diabaikan pelaksana proyek.

“Kami menuntut kompensasi karena kerugian infrastruktur, ekonomi dan kesehatan warga. Satu warga di sini didiagnosa mengalami infeksi saluran pernapasan (Ispa) karena polusi di kawasan tersebut. Pokoknya kami menunggu pertemuan dengan pelaksana proyek untuk membicarakan permasalahan ini,” timpal seorang warga lainnya, Agung Manfaat. 

Lurah Kadipiro Sugeng Budi berharap warga tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Sebab semua itu bisa diselesaikan dengan musyawarah mufakat. Pihaknya minta warga tetap tenang.

“Kami sudah mengadakan rapat bersama pihak kecamatan serta pengelola proyek tersebut. Yang jelas kesepakatan dan permintaan warga akan kami rundingkan tentunya mengajak beberapa perwakilan warga tiap RT yang ada di kawasan itu,” kata Sugeng.

Sugeng menjelaskan, tuntutan penghentian proyek yang diharapkan warga sepertinya tidak bisa dilakukan hingga satu pekan ke depan. Hal itu mengingat saluran air yang berada di pinggir jalan belum sepenuhnya selesai, padahal  bulan ini masuk musim hujan.

“Jika harus dihentikan sepekan saya khawatir rumah warga bakal kebanjiran karena saluran air menjadi tanggung jawab pihak proyek. Maka dari itu, untuk penyelesaian saluran air bisa segera diselesaikan. Saya harap semua bisa diselesaikan dengan duduk bersama,” ujar Sugeng. (ves/bun)

(rs/ves/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia