Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Dipeluk Ayah Korban saat Persidangan, Iwan Minta Maaf

Rabu, 07 Nov 2018 07:30 | editor : Fery Ardy Susanto

Ayah almarhum Eko Prasetio, Suharto memeluk tersangka Iwan Adranacus sebelum sidang di Pengadilan Negeri Surakarta, Selasa (6/11).

Ayah almarhum Eko Prasetio, Suharto memeluk tersangka Iwan Adranacus sebelum sidang di Pengadilan Negeri Surakarta, Selasa (6/11). (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)

SOLO - Sidang perdana kasus tabrakan maut dengan terdakwa Iwan Adranacus, 40, digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta Selasa kemarin (6/11). Sidang kasus ini bakal dilaksanakan secara maraton. Targetnya, awal Desember ini, majelis hakim sudah menjadwalkan pembacaan putusan.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Solo sidang yang dilaksanakan di Ruang Kusumah Atmadja ini dimulai sekitar pukul 10.30. Sidang yang berjalan selama 40 menit ini dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Krosbin Lumbangaul,  dengan dua hakim anggota,  Sri Widiastuti dan Endang Makmun.

Sebelum sidang berlangsung, suasana haru sempat terlihat di ruang sidang. Ayah korban Eko Prasetio, Suharto terlihat menghampiri terdakwa Iwan Adranacus yang kala itu mengenakan kemeja putih, celana hitam dan rompi orange khas tahanan. Raut muka terdakwa berubah tatkala Suharto memeluknya dengan erat.

Dia sama sekali tak menyangka jika Suharto akan memeluknya setelah dia melakukan tindakan fatal terhadap putranya. “Maaf, saya tidak sengaja,” kata Iwan singkat sebelum duduk di kursi pesakitan.

Ucapan singkat bos pabrik cat ini lantas dibalas oleh Suharto. Pria ini mengingatkan kalau dia sudah mengikhlaskan kejadian ini. “Saya maafkan. Saya ikhlaskan (almarhum Eko Prasetio). Demi Allah, saya maafkan,” katanya.

Usai momen singkat tersebut, ketua majelis hakim meminta kepada terdakwa duduk di depan meja hijau. Setelah itu, tiga Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksanaan Negeri (Kejari) Surakarta Surakarta, yakni  Satriawan Sulaksono, Titiek Maryani, dan R.R Rahayu membacakan dakwaan yang berisi kronologi kejadian serta hasil penyidikan oleh penyidik kepolisian.

Dalam dakwaan tersebut, berdasarkan hasil visum Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi Solo, korban meninggal dunia akibat mengalami luka parah pada bagian kepala sehingga membuat saraf yang menyambung ke bagian otak korban terputus setelah ditabrak terdakwa dari belakang.

Setelah pembacaan dakwaan, ketua majelis hakim meminta Iwan untuk berdiskusi dengan tim kuasa hukumnya apakah menerima dakwaan tersebut atau tidak. Setelah melakukan diskusi, kuasa hukum Iwan, Joko Haryadi mengatakan, pihaknya menerima dakwaan awal yang dibacakan pada terdakwa.

Setelah itu, baik JPU, kuasa hukum dan tersangka diminta maju ke meja majelis hakim untuk menandatangani berkas dakwaan tersebut. Sebelum menutup sidang, Krosbin langsung menyusun jadwal sidang lanjutan untuk kasus ini.

Sidang lanjutan sendiri jadwalnya adalah pemeriksaan 17 orang saksi dari TKP serta lima orang saksi ahli dari pihak JPU. Jadwal sendiri akan kembali digelar Kamis (8/11), Selasa hingga Kamis (13-15/11) pekan depan, kemudian terakhir pada Rabu (21/11).

“Karena saksi yang diajukan JPU cukup banyak, saya meminta kepada JPU untuk menghadirkan lima saksi pada tiap sidang,” kata Krosbin

Sedangkan untuk saksi meringankan terdakwa akan dijadwalkan pada Kamis (22/11) mendatang. Kemudian Senin dan Selasa (26-27/11) dijadwalkan pemeriksaan penggabungan antara berkas perdata dan pidana dari pihak keluarga korban pada kasus ini. Sedangkan majelis hakim akan memutus kasus ini pada Selasa (11/12) bulan depan.

“Untuk itu saya minta hari ini (kemarin), baik JPU maupun kuasa hukum terdakwa untuk menyusun undangan bagi para saksi, dan besok (hari ini) undangan sidang harus sudah ada di tangan saksi seluruhnya. Jangan ditunda-tunda,” tegas Krosbin sembari mengetuk palu tanda sidang ditutup.

Dijumpai usai persidangan JPU, Satriawan mengatakan bentuk dakwaan yang dilayangkan jaksa ada subsider dan alternatif. Pasal primer yang disangkakan adalah pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara subsider pasal 351 tentang penganiayaan yang menyebabkan meninggal dunia dengan ancaman hukuman  7 tahun penjara. Sedangkan untuk pasal alernatif berupa Pasal 311 ayat 5 UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan ancaman 12 tahun.

“Kami juga akan melaksanakan perintah hakim untuk menyusun jadwal pemanggilan para saksi dan langsung kita serahkan pada para saksi,” ujar Satriawan. (atn/bun)

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia