Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Bank Sampah Kecamatan Slogohimo Bangkit dari Mati Suri

Rabu, 07 Nov 2018 17:17 | editor : Perdana

BERGELIAT: Nasabah bank sampah hendak menyetorkan sampah.

BERGELIAT: Nasabah bank sampah hendak menyetorkan sampah. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Mati suri selama tiga tahun, bank sampah di Kecamatan Slogohimo bangkit lagi. Lebih dari 800 nasabah berpartisipasi menyetor sampah. Ditargetkan setiap dusun di kecamatan setempat memiliki cabang bank sampah.

IWAN KAWUL, Slogohimo 

Senja sudah bergelayut di langit Slogohimo, namun tim dari bank sampah Slogohimo masih berkeliling dari rumah ke rumah di Desa Sokoboyo, Desa Soco dan Desa Made. Meski belum punya nama, bank sampah ini kembali aktif mulai awal Oktober lalu. 

"Sebenarnya sudah ada bank sampah sejak 2015, kemudian tidak aktif. Diganti pengurus juga tidak aktif. Sekarang ada gebrakan baru," ujar pengelola bank sampah Ninik Suryani. 

Dari hasil evaluasi, ternyata salah satu alasan kenapa bank sampah tidak berjalan adalah pengurus harus menyediakan lahan untuk menampung sampah-sampah dari para nasabah. Maka, ditempuhlah gebrakan dari pengurus yang baru dengan mendatangi langsung para nasabah. Jemput bola.

"Sekarang, kita yang datang langsung bersama tukang rosok. Setelah transaksi, uangnya langsung ditabung," ujar Ninik. 

Setiap nasabah mengumpulkan sampah berupa botol, kardus, alumunium, plastik bening, besi, sepatu, dan sandal bekas. Rata-rata setiap nasabah bisa menyetorkan Rp 10 ribu sampai Rp 25 ribu. 

"Setorannya tergantung kesepakatan dengan nasabah, bisa seminggu sekali, dua minggu sekali, atau sebulan sekali," tambahnya. 

Sampai saat ini, dari empat desa, yakni Desa Waru, Sokoboyo, Made dan Soco sudah terbentuk 16 bank sampah dusun. Targetnya yakni di Kecamatan Slogohimo ada 17 desa di mana setiap desa ada empat dusun yang akan mempunyai cabang bank sampah. 

"Nasabah saat ini yang terdata yakni 853 nasabah. Bulan ini, kami yakin bisa naik tiga kali lipat," katanya. 

Para pegiat bank sampah, masih terus melakukan pendampingan dan sosialisasi sampai proses penjualan sampah ke pengepul. Harapannya, sampah-sampah yang ada di rumah tangga bisa bernilai ekonomis.

"Kami membantu permasalahan sampah yang dihadapi pemkab dengan mengatasi sampah langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga," ucap dia. (*/wa

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia